BMKG Kendari mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan Sulawesi Tenggara yang berlaku mulai hari ini sampai Minggu, 27 September 2026 pukul 08.00 Wita. Peringatan ini menyasar operator transportasi laut, nelayan, dan masyarakat pesisir di tiga wilayah perairan yang berisiko terdampak.
KENDARI — Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari Zumiana menyampaikan bahwa pola angin di perairan Sultra umumnya bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 2 sampai 20 knot. Kecepatan angin tertinggi yang dapat memicu gelombang tinggi diperkirakan mencapai 25 knot atau setara 6 Skala Beaufort.
Peningkatan kecepatan angin terdeteksi di Teluk Bone Barat Kolaka Utara, Teluk Bone Barat Kabaena, dan Perairan Baubau. Ketiga wilayah itu masuk kategori pemantauan ketat karena berpotensi mengalami gelombang sedang hingga tinggi.
Wilayah Perairan yang Berpotensi Gelombang 1,25–2,5 Meter
Zumiana merinci wilayah perairan Sultra yang berpotensi mengalami gelombang berkisar 1,25 hingga 2,5 meter. Ketiga titik itu adalah Teluk Bone Barat Kabaena, Perairan Baubau, dan Laut Flores Selatan Buton.
"BMKG mencatat wilayah perairan di Sultra yang berpotensi mengalami gelombang sedang hingga tinggi berkisar 1,25 hingga 2,5 meter meliputi Teluk Bone Barat Kabaena, Perairan Baubau, dan Laut Flores Selatan Buton," ujarnya.
Gelombang pada rentang ketinggian itu masuk kategori sedang hingga tinggi. Bagi kapal kecil dan perahu tradisional, kondisi tersebut sudah cukup berisiko jika dipaksakan melaut tanpa perhitungan cuaca yang matang.
Ambang Batas Angin dan Gelombang yang Berisiko bagi Nelayan hingga Tongkang
BMKG membedakan ambang risiko berdasarkan jenis armada. Perahu nelayan berisiko tinggi ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter.
Kapal tongkang menghadapi risiko serupa saat kecepatan angin menyentuh 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter. Dua ambang itu menjadi acuan bagi nakhoda untuk menunda keberangkatan bila kondisi perairan memburuk.
Zumiana menegaskan bahwa kondisi cuaca maritim kali ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Ia meminta seluruh pengguna moda transportasi laut memperhatikan risiko sebelum berlayar.
Imbauan untuk Nelayan dan Masyarakat Pesisir Sultra
BMKG mengimbau nelayan, nakhoda, dan masyarakat pesisir di Sultra rutin memantau informasi cuaca maritim terbaru. Pengecekan kondisi perairan sebelum melaut menjadi langkah paling sederhana untuk menekan risiko kecelakaan.
Operator moda transportasi laut juga diminta menyesuaikan jadwal pelayaran dengan perkembangan cuaca. Peringatan dini ini berlaku hingga Minggu, 27 September 2026 pukul 08.00 Wita, sehingga pembaruan informasi dari BMKG Kendari perlu diikuti selama periode tersebut.