SULAWESI TENGGARA — Pemerintah menyiapkan anggaran Rp154,58 miliar untuk pengembangan kelapa nasional melalui Coconut Area Development Plan 2027 dengan total kawasan 51.721 hektare. Rencana yang dipaparkan Menko Pangan Zulkifli Hasan di Manado itu mencakup 42.721 hektare ekspansi dan 9.000 hektare peremajaan. Permintaan global yang meningkat jadi alasan utama percepatan.
Angka anggaran Rp154,58 miliar menempel pada program yang akan dijalankan bertahap mulai 2027. Sebanyak 42.721 hektare dialokasikan untuk perluasan area tanam, sementara 9.000 hektare sisanya untuk peremajaan tanaman tua. Sebaran kawasan mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut kelapa kini masuk daftar prioritas komoditas perkebunan rakyat. Nilai ekonominya dinilai melampaui beberapa komoditas perkebunan lain yang selama ini jadi andalan.
"Kelapa ini akan menjadi salah satu komoditas utama yang kita kembangkan. Nilai ekonominya sekarang lebih tinggi dari nilai-nilai perkebunan yang lain," ujar Zulhas saat menghadiri rangkaian World Coconut Day 2026 di Manado, Sulawesi Utara.
Perubahan pola konsumsi di pasar internasional jadi pemicu. Kelapa tidak lagi hanya bahan pangan tradisional, tetapi makin banyak dipakai industri makanan dan minuman olahan. Zulhas mencontohkan pergeseran konsumsi kopi di sejumlah negara.
"Orang sekarang minum kopi nggak pakai susu lagi, sudah pakai kelapa, santan. Itu terjadi di Tiongkok, Asia, India dan tempat-tempat lain, sehingga kelapa menjadi rebutan," katanya.
Negara pengimpor utama seperti Tiongkok dan India menjadi tujuan yang paling sering disebut dalam perdagangan kelapa olahan. Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia, tetapi produktivitasnya tertekan karena usia tanaman.
Persoalan utama bukan luas lahan, melainkan umur pohon. Banyak kebun kelapa rakyat ditanam puluhan tahun lalu dan kini produktivitasnya menurun. Zulhas menyebut siklus panen kelapa dalam yang mencapai enam sampai tujuh tahun sebagai hambatan.
"Kalau kelapa dalam kan lama, enam sampai tujuh tahun. Jadi kita harus punya varietas baru, tiga tahun sudah bisa berbuah. Jangan sampai kita tertinggal jauh dari Thailand," ujar Zulhas.
Percepatan pembibitan dengan varietas berumur produksi pendek jadi salah satu syarat agar target kawasan bisa berbunga sesuai jadwal. Thailand dan beberapa produsen Asia lain lebih dulu menanam varietas unggul dengan masa panen lebih singkat.
Pengembangan kawasan hanya satu sisi. Pemerintah juga menyiapkan penguatan manajemen perkebunan dan industri pengolahan agar nilai tambah kelapa tertahan di dalam negeri. Penanganannya melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Hilirisasi, dan Danantara.
"Kedua, hilirisasi. Kelapanya ditangani Kementerian Pertanian, Menteri Hilirisasi, termasuk Danantara. Kita harus cepat mengejar, tadi bibit, manajemen perkebunannya, kemudian juga industrinya, pengolahannya," tuturnya.
Produk turunan yang dibidik antara lain santan, minyak kelapa, tepung kelapa, dan bahan baku industri kosmetik. Selama ini sebagian besar ekspor kelapa Indonesia masih berbentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah.
Bagi petani, program peremajaan 9.000 hektare berpotensi memperbaiki produktivitas kebun yang sudah menua. Namun skema pembiayaan dan pendampingan teknis belum dirinci dalam paparan tersebut. Pelaku industri pengolahan menanti kepastian pasokan bahan baku dalam tiga sampai lima tahun ke depan.
Zulhas menempatkan kelapa sebagai komoditas nomor satu dalam perluasan perkebunan rakyat yang dimulai pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Komoditas lain yang masuk daftar antara lain kopi, cengkeh, dan cokelat.
"Selama ini kita kembangkan kebun-kebun besar. Tapi tahun pertama pemerintahan Pak Prabowo, kita mulai perkebunan rakyat, antara lain kelapa, kopi, cengkeh, cokelat dan lainnya. Tapi nomor satu kelapa," pungkas Menko Zulhas.
Realisasi anggaran Rp154,58 miliar dan pembukaan 51.721 hektare akan bergantung pada kesiapan bibit di tingkat daerah. Tanpa pasokan bibit varietas genjah yang memadai, target panen tiga tahun sulit dicapai.