SULAWESI TENGGARA — Perbedaan konsumsi bahan bakar antara kondisi atap tertutup dan terbuka memang tidak terlalu mencolok, rata-rata hanya sekitar 14 persen. Namun, bagi pemilik mobil konvertibel, angka ini tetap terasa di kantong, terutama bagi mereka yang kerap menempuh perjalanan jauh di jalan tol.
Faktor utamanya adalah aerodinamika. Mobil dengan atap tertutup memiliki bentuk bodi mulus, seperti bola yang meluncur efisien di udara. Sebaliknya, saat atap terbuka, aliran udara justru masuk ke kabin dan menciptakan hambatan. Akibatnya, mobil bekerja lebih keras untuk melaju.
Uji coba yang dilakukan Cars.com pada Mercedes-Benz SLK350 2012 menunjukkan penurunan konsumsi BBM dari 31,7 mpg menjadi 27,3 mpg saat atap dibuka. Artinya, ada selisih 4,4 mpg atau hampir 15 persen lebih boros.
Hasil serupa juga ditemukan The Fast Lane Car lewat kanal YouTube-nya. Mereka menguji Mini Cooper S Convertible 2016 dan mencatat konsumsi BBM turun dari 37,9 mpg menjadi 32,8 mpg, atau selisih sekitar 13 persen. Kedua pengujian ini dilakukan dengan kondisi jalan dan gaya berkendara yang sama.
Pabrikan modern seperti Mercedes-Benz dengan model CLE450 Cabriolet sudah melengkapi mobilnya dengan windscreen dan wind deflector untuk meredam turbulensi udara. Fitur ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan penumpang, bukan semata-mata untuk efisiensi BBM.
Sayangnya, hukum fisika tidak bisa dibohongi. Meski teknologi peredam angin sudah canggih, perbedaan aerodinamis antara kondisi atap tertutup dan terbuka tetap tidak bisa dihindari. Hambatan udara yang timbul akan selalu memengaruhi konsumsi bahan bakar.
Menariknya, ada temuan lain dari pengujian di dunia nyata. Pengemudi yang membuka atap cenderung secara tidak sadar mengurangi kecepatan, terutama saat melaju di atas 88 km/jam. Deru angin dan kebisingan yang masuk ke kabin membuat pengemudi secara naluriah menurunkan laju kendaraan.
Fenomena ini juga yang membuat Jeremy Clarkson, pembawa acara otomotif legendaris, pernah berpendapat bahwa semua mobil konvertibel terasa sama di atas kecepatan 48 km/jam. "Pengalaman berkendara begitu didominasi oleh elemen angin sehingga Anda tidak benar-benar merasakan kekurangan handling atau lubang di kurva torsi," tulisnya seperti dikutip The Times.
Jadi, bagi Anda pemilik konvertibel yang ingin tetap irit BBM, ada dua pilihan: biarkan atap tertutup di jalan tol, atau nikmati angin dan terima saja konsekuensi konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih boros. Efek angin yang kencang setidaknya bisa membuat Anda lupa dengan angka di indikator BBM.