WAKATOBI — Keunikan arsitektur rumah warga Suku Bajo di Kampung Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kerap menarik perhatian para pendatang. Salah satunya adalah desain kamar mandi yang menyatu dengan area dapur tanpa sekat pembatas.
Gambaran itu terekam dalam tayangan dokumenter Tanah Air Beta yang disiarkan Trans TV. Dalam tayangan tersebut, terlihat bagaimana ruang memasak dan tempat mandi berada dalam satu area yang sama tanpa dibatasi dinding.
Bagi masyarakat di daratan, memisahkan dapur dan kamar mandi adalah keniscayaan. Namun, bagi Suku Bajo di Mola, keduanya sengaja disatukan.
Lahan yang terbatas karena rumah dibangun di atas laut menjadi alasan utama. Memisahkan keduanya akan memakan banyak tempat, sementara kebutuhan ruang gerak harian tetap harus terpenuhi.
Desain ini juga mempermudah aktivitas. Air bekas mandi dan cucian dapur bisa langsung dialirkan ke laut di bawah rumah, menjaga kebersihan permukiman.
Meski tanpa sekat, aktivitas mandi dan memasak tidak saling mengganggu. Warga menerapkan aturan tak tertulis dan pembagian waktu penggunaan area tersebut.
Biasanya, aktivitas memasak dilakukan lebih dulu atau setelah anggota keluarga selesai mandi. Lantai kamar mandi yang terbuat dari papan kayu juga didesain memiliki celah agar air cepat turun, sehingga lantai tidak licin dan cepat kering.
Keunikan ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Di tengah modernisasi, sebagian warga mulai mengubah desain rumahnya, namun banyak pula yang mempertahankan tata ruang asli ini.
Kampung Mola sendiri dikenal sebagai salah satu permukiman Suku Bajo terbesar di dunia. Selain arsitektur rumahnya, warga setempat juga terkenal dengan tradisi bahari dan kemampuan menyelamnya yang mumpuni.
Desain kamar mandi tanpa sekat ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal selalu punya jawaban atas tantangan lingkungannya. Sebuah bukti bahwa hunian yang baik tidak selalu diukur dari kemewahan, melainkan dari kemampuannya beradaptasi dengan alam.