KENDARI — Puluhan siswa SD Negeri 9 Kendari terpaksa menjalani kegiatan belajar-mengajar di ruangan guru setiap hari. Ruang yang seharusnya difungsikan untuk administrasi dan istirahat pendidik itu beralih fungsi menjadi kelas darurat sejak bertahun-tahun lalu.
Kepala SDN 9 Kendari, Amos Andreas, mengatakan keterbatasan ruang belajar membuat proses pendidikan tidak berjalan maksimal. Para guru kesulitan membagi fokus antara mengajar dan menyelesaikan pekerjaan administrasi di tempat yang sama.
"Anak-anak kami tidak mendapat perhatian maksimal seperti sekolah lain. Ruangannya terbatas, gurunya juga harus mengajar sambil memikirkan administrasi di tempat yang sama," ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Toilet Sekolah Tak Layak, Siswa Menumpang ke Sekolah Sebelah
Persoalan fasilitas tidak berhenti pada ruang kelas. Toilet yang berada di lingkungan SDN 9 Kendari saat ini tidak layak pakai. Keterbatasan air bersih menjadi penyebab utama fasilitas tersebut tidak berfungsi.
Amos menuturkan, anak-anak dan guru selama ini menumpang toilet di sekolah sebelah. Kebiasaan tersebut berlangsung bertahun-tahun dan menimbulkan kekhawatiran baru bagi kesehatan siswa.
"Kalau anak-anak menahan untuk buang air, lama-lama itu juga akan jadi penyakit. Ini yang kami khawatirkan. Seharusnya anak-anak bisa belajar dengan tenang, fasilitas dasar seperti toilet layak itu harus ada," harapnya.
Lokasi Strategis di Pinggir Jalan, Fasilitas Justru Memprihatinkan
SDN 9 Kendari berada di pinggir poros jalan dengan lokasi yang strategis. Amos menyayangkan kondisi sekolah yang jauh dari kelayakan meski posisinya mudah terlihat publik dan seharusnya bisa menjadi contoh.
Dalam lima bulan terakhir, perbaikan yang baru dilakukan pihak sekolah secara swadaya hanya perubahan pagar. Sementara kondisi di dalam ruangan masih sangat memprihatinkan.
"Meja kursi sudah tua, atap bocor saat hujan, dan sirkulasi udara kurang," tambahnya.
Sekolah Berharap Dinas Pendidikan Turun Tangan
Amos berharap pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Kota Kendari segera merespons kebutuhan mendesak tersebut. Penambahan ruang kelas baru dan pembangunan toilet layak menjadi prioritas utama agar kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan normal.
"Kami tidak minta banyak. Cukup ruang kelas tambahan dan toilet yang bisa digunakan anak-anak. Itu saja dulu. Biar anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan sehat," pungkasnya.