KENDARI — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari memimpin doa bersama yang diikuti jurnalis se-Sulawesi Tenggara. Kegiatan itu digelar sebagai wujud harapan agar kelima pewarta foto dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Ketua AJI Kendari Nursadah mengatakan pihaknya berharap lima rekannya segera ditemukan. "Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya," ujar Nursadah di Kendari, Sabtu 12 September malam.
Menurut Nursadah, aksi solidaritas itu juga menjadi dukungan bagi tim SAR yang masih berupaya mencari keberadaan para pewarta. Doa bersama sekaligus menjadi momentum refleksi bagi jurnalis di Sultra agar selalu mematuhi standar operasional prosedur (SOP) keselamatan.
Nursadah menyadari pekerjaan jurnalistik kerap membawa wartawan ke lokasi berbahaya. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas dan tidak boleh dikorbankan demi mendapatkan informasi untuk publik.
"Ini sesuai jargon kita di wartawan dan jurnalis bahwa tidak ada berita seharga nyawa," katanya.
AJI, lanjut Nursadah, terus mendorong perusahaan media dan organisasi profesi jurnalis menyediakan pelatihan keselamatan bagi wartawan yang bertugas di lokasi bencana. Pelatihan tersebut dinilai penting agar risiko kecelakaan saat peliputan bencana dapat diminimalkan dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra Zabur Karuru mengatakan musibah yang menimpa lima pewarta foto merupakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh setiap jurnalis ketika menjalankan tugas. Menurut Zabur, pewarta foto memiliki peran penting dalam kerja jurnalistik karena menyampaikan informasi melalui gambar yang menjadi rekaman sebuah peristiwa.
"Di antara berbagai profesi jurnalistik, ada satu sosok yang bekerja tanpa banyak kata namun bicara lewat setiap bidikan lensanya, yaitu pewarta foto," katanya.
Ia mengatakan pekerjaan pewarta foto kerap dianggap sederhana, padahal memiliki risiko nyata. Mereka harus berada di tengah kerumunan aksi, dekat dengan garis evakuasi bencana.
"Kamera yang mereka bawa bukan sekadar alat kerja, melainkan mata bagi publik yang tidak bisa hadir langsung di tempat kejadian," kata Zabur.
Zabur mengaku mengenal kelima pewarta tersebut sebagai jurnalis yang ulet dan militan di lapangan. Karya jurnalistik yang mereka hasilkan pun dinilai berkualitas.
"Hari-hari ini, kita merasakan betul apa yang saya sampaikan tadi. Rekan kita, Bagus, Bang Arbas, Yudis, Donal, dan Daus hilang kontak sejak Senin lalu saat menuju Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan," ujarnya.
Ia menuturkan kelima jurnalis tersebut berangkat dengan semangat yang sama seperti pewarta foto lainnya, yakni menjalankan tugas dan membawa pulang gambar untuk disampaikan kepada publik.
"Hari ini kita berkumpul bukan untuk berduka, melainkan untuk berdoa: memohon keselamatan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," ucapnya.
Zabur mengajak seluruh jurnalis untuk terus memberikan dukungan moral dan doa terbaik bagi kelima pewarta tersebut, tim SAR, serta keluarga yang masih menanti kabar.
"Sebab, di balik setiap foto berita yang kita lihat, ada pewarta foto yang mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatannya," katanya.
"Semoga doa yang kita panjatkan menjadi kekuatan bagi tim SAR yang terus bekerja tanpa lelah, dan menjadi penguat bagi keluarga yang menanti kabar baik. Mari kita satukan hati dan doa, memohon agar rekan-rekan kita ini segera kembali dengan selamat kepada keluarga dan kita semua," katanya.
Lima jurnalis foto dilaporkan hilang kontak ketika melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kelima jurnalis tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara Foto, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.