Emisi Karhutla Indonesia Tertinggi di Dunia, Lampaui Rusia pada September 2026

Penulis: Panji Pratama  •  Senin, 14 September 2026 | 10:17:31 WIB
Emisi karhutla Indonesia mencapai 19,7 juta metrik ton pada 1-7 September 2026 menurut data Copernicus.

SULAWESI TENGGARA — Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, mencatat emisi karhutla Indonesia menembus 19,7 juta metrik ton pada 1-7 September 2026. Reuters mengutip data tersebut pada Senin (14/9/2026). Posisi Indonesia menyalip Rusia sebagai penyumbang emisi kebakaran terbesar dunia.

Wilayah Paling Terdampak

Kalimantan dan Sumatera bagian timur menanggung beban terberat. Kedua wilayah dilanda cuaca panas dan kering yang memicu api menyebar cepat. Emisi periode ini tercatat 273% di atas rata-rata musiman.

Levelnya mendekati kondisi 2015, saat Indonesia mengalami salah satu krisis karhutla terburuk. Fenomena super-El Niño memperparah situasi dengan suhu tinggi dan risiko kebakaran yang meningkat.

Kualitas Udara Pontianak Capai Level 394

Dampak asap terlihat jelas di Pontianak. Indeks kualitas udara di kota itu sempat menyentuh 394, level yang menandakan kondisi sangat buruk. Angka ini memberi gambaran nyata bagaimana asap karhutla mengganggu aktivitas warga.

Luas Lahan Terbakar Melonjak

Data pemerintah mencatat sekitar 202.000 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Perkiraan untuk Agustus menunjukkan lonjakan tajam menjadi sekitar 600.000 hektare.

Titik panas juga bertambah. Sepanjang 1 Agustus hingga 8 September, tercatat 13.443 titik panas di Indonesia. Jumlah itu melampaui 9.454 titik panas pada periode yang sama di 2015.

Emisi Bisa Lebih Tinggi dari Catatan

Angka Copernicus belum tentu menggambarkan keseluruhan dampak. Kebakaran bawah permukaan tanah, terutama di lahan gambut, sulit terdeteksi. Emisi sebenarnya berpotensi lebih tinggi dari yang terukur.

Musim kebakaran diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Pemerintah terus memantau perkembangan api, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering dan panas.

Tekanan Pengendalian di Tengah Cuaca Kering

Indonesia menghadapi tekanan untuk mengendalikan kebakaran saat cuaca membuat api lebih mudah menyebar. Kontribusi Indonesia terhadap emisi kebakaran global pada awal September 2026 menjadi yang terbesar di dunia berdasarkan pemantauan Copernicus.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top