SULAWESI TENGGARA — Peluncuran buku ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang diskursus strategis mengenai arah gerakan organisasi menjelang muktamar yang akan menentukan kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan. Kehadiran dua tokoh kunci—Menteri Agama dan Ketua Umum PBNU—memberi sinyal bahwa gagasan yang dituangkan dalam buku ini relevan dengan peta politik dan keagamaan nasional saat ini. Tiga Pilar Gerakan: Fikroh, Manhaj, dan Harakah
Buku yang ditulis Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin ini mendokumentasikan perjalanan pemikiran KH Ma'ruf Amin selama lebih dari lima dekade di lingkungan NU. Fokus utamanya pada tiga pilar organisasi: fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).
Dalam pengantarnya, KH Ma'ruf Amin menegaskan bahwa NU tidak boleh direduksi menjadi sekadar organisasi administratif. "NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan)," tegasnya.
Ia juga mengingatkan warga Nahdliyin untuk menjaga khittah NU sebagai pedoman perjuangan yang diwariskan para pendiri. Menurutnya, gerakan NU harus menjalankan tiga fungsi utama: himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan). Gagasan Ekonomi Syariah dan Kemandirian Umat
Salah satu bagian yang paling relevan dengan kebijakan nasional adalah pemikiran KH Ma'ruf Amin mengenai kemandirian ekonomi. Buku ini menelusuri akar sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918 yang diprakarsai KH Abdul Wahab Hasbullah bersama Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan kontemporer, termasuk Gerakan Koin NU yang bertransformasi menjadi gerakan filantropi nasional. Lebih jauh, KH Ma'ruf Amin menawarkan konsep tasyri'iyyah al-iqtisadiyyah—menghadirkan prinsip fikih muamalah ke dalam regulasi, akad, dan kebijakan ekonomi syariah nasional untuk memperkuat keadilan distributif. Momentum Jelang Muktamar dan Refleksi Abad Kedua
Peluncuran buku ini menjadi salah satu rangkaian diskursus intelektual menjelang Muktamar ke-35 NU. Selain menghadirkan gagasan mengenai arah gerakan, forum ini menjadi refleksi terhadap tantangan organisasi memasuki abad kedua perjalanan NU.
Pada bagian penutup buku, KH Ma'ruf Amin mengajak warga Nahdliyin membangun tradisi berorganisasi berdasarkan pemahaman, keyakinan, dan argumentasi yang kuat. Ia menegaskan bahwa kecintaan kepada Tanah Air merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan yang harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Acara di Hotel Grand Sahid Jaya itu turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh, serta sejumlah pengasuh pondok pesantren dari Cirebon dan Purwakarta.