BUTON — Sebanyak 200 remaja putri dari SMA Negeri 12 Buton dan SMP Negeri 10 Lasalimu Selatan menerima Tablet Tambah Darah dalam kegiatan di SMA Negeri 12 Buton. Rangkaian acara juga diisi skrining anemia, Cek Kesehatan Gratis bagi anak usia sekolah dan masyarakat umum, serta penandatanganan MoU Sekolah Sehat.
Di SMA Negeri 1 Lapandewa, Buton Selatan, 113 siswi menerima TTD disertai CKG anak sekolah dan edukasi kesehatan. Total 313 remaja putri dari dua lokasi itu menjadi sasaran langsung intervensi gizi yang digulirkan Pemprov Sultra.
Pemberian makanan tambahan diberikan kepada dua ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis dan tiga balita bergizi buruk. Kelompok tersebut masuk kategori rentan yang menjadi prioritas dalam penanganan stunting di wilayah Pulau Buton.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sultra dr. Andi Edy Surahmat menyatakan pencegahan stunting membutuhkan intervensi berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.
"Upaya pencegahan harus dimulai sejak usia sekolah melalui penguatan edukasi gizi dan pembiasaan perilaku hidup sehat," kata dr. Andi Edy.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sultra Sijatiku menyebut data Sigizikesga/e-PPGBM dan data riil puskesmas hingga Juli 2026 menunjukkan prevalensi stunting di Buton Selatan sebesar 18,2 persen. Khusus wilayah kerja Puskesmas Lapandewa, angkanya tercatat 28,7 persen.
Angka itu menjadi dasar penguatan intervensi melalui edukasi kesehatan sejak remaja, pemberian TTD, pemeriksaan kesehatan, dan pemenuhan gizi. Sijatiku menegaskan angka tersebut perlu dibaca sesuai sumber dan metode pengukuran karena tidak dapat dibandingkan langsung dengan data SSGI 2024 yang memakai sumber dan metode berbeda.
Melalui Aksi Bergizi, Pemprov Sultra mendorong pencegahan stunting tidak berhenti pada penanganan balita. Upaya dibangun sejak masa remaja melalui pencegahan anemia, pemenuhan gizi, dan pembentukan perilaku hidup sehat.
Pendekatan itu menempatkan remaja putri sebagai pintu masuk intervensi jangka panjang. Anemia pada remaja perempuan berpotensi berlanjut ke kehamilan dan berdampak pada kondisi gizi anak yang dilahirkan.
Pemprov Sultra menyiapkan skrining dan edukasi berkelanjutan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari rangkaian Gerakan Cegah Stunting. Sekolah sehat yang terbentuk lewat MoU diharapkan menjadi kanal rutin pemantauan kesehatan pelajar di Kabupaten Buton dan Buton Selatan.