SULAWESI TENGGARA — Harga emas Pegadaian pada Sabtu (24/10/2026) bergerak mixed, dengan Antam bertahan di Rp 2.579.000 per gram sementara UBS turun Rp 10.000 ke Rp 2.491.000 dan Galeri24 melemah Rp 11.000 menjadi Rp 2.467.000. Penurunan dua produk itu terjadi di tengah tekanan harga emas dunia yang jatuh ke level terendah tiga bulan akibat kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Pegadaian memperbarui daftar harga emas batangan untuk ketiga produk andalannya pada Sabtu (24/10/2026). Antam menjadi satu-satunya produk yang tidak mengalami perubahan dibandingkan hari sebelumnya, sementara UBS dan Galeri24 masing-masing terkoreksi Rp 10.000 dan Rp 11.000 per gram. Harga yang dipublikasikan melalui laman resmi Pegadaian itu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pembaruan harian perseroan.
Ketiga produk emas batangan tersedia dalam pilihan berat yang berbeda-beda. Galeri24 menawarkan ukuran paling luas, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. UBS tersedia dalam rentang 0,5 gram sampai 500 gram, sedangkan Antam dibatasi pada ukuran 0,5 gram hingga 100 gram.
Untuk ukuran terkecil 0,5 gram, Galeri24 dibanderol Rp 1.294.000, Antam Rp 1.340.000, dan UBS Rp 1.346.000. Pada ukuran 1 gram, selisih harga cukup terasa: Galeri24 Rp 2.467.000, UBS Rp 2.491.000, dan Antam Rp 2.579.000.
Perbedaan ukuran memberi ruang bagi masyarakat untuk membeli emas sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran, mulai dari investor pemula yang mencoba 0,5 gram hingga pemilik dana besar yang memburu batangan 1 kilogram.
Koreksi harga di Pegadaian sejalan dengan pergerakan emas global. Harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 3.998,49 per ons pada Jumat, jatuh di bawah level US$ 4.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli. Sepanjang pekan, emas merosot 4% dan mencatat penurunan mingguan terburuk sejak Juni.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga ditutup turun 1,3% ke US$ 4.007,90 per ons. Pemicunya adalah kenaikan harga minyak mentah Brent ke level tertinggi lebih dari lima bulan setelah serangan Houthi di Arab Saudi memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi.
"Meningkatnya kekhawatiran inflasi menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama dunia tidak akan dapat melonggarkan kebijakan moneter secepat yang mereka inginkan. Semua faktor itu saat ini menekan pasar emas dan perak," kata Analis Pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
Wyckoff menambahkan, aksi jual saham teknologi memicu margin call bagi pedagang dan investor saham. Situasi itu mendorong mereka melepas aset emas dan perak untuk menutup kebutuhan dana. Indeks S&P 500 dan Nasdaq menyentuh level terendah lima pekan pada Jumat setelah saham terkait kecerdasan buatan (AI) dibanting.
Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga dalam rapat 27–28 Oktober. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penahanan suku bunga pekan depan mencapai 92%, sedangkan probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 78%. Data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan pekan lalu memperkuat kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat hingga akhir tahun.
Bagi calon pembeli, penurunan harga UBS dan Galeri24 bisa menjadi jendela masuk sebelum tekanan global mereda. Namun dengan emas dunia masih berada di jalur bearish dan sinyal suku bunga The Fed belum berubah, fluktuasi harga di Pegadaian diperkirakan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.