Pengumuman yang dilakukan Lego pekan ini langsung memicu perdebatan di forum-forum penggemar Pokémon, dari Reddit hingga grup Facebook kolektor Indonesia. Produk yang disebut "Smart Play" ini menggabungkan bata Lego klasik dengan komponen digital, sebuah pendekatan yang sudah pernah dicoba Lego sebelumnya lewat seri Lego Super Mario.
Yang Bikin Gundah Bukan Bloknya, Tapi Layarnya
Alih-alih menghadirkan pengalaman merakit murni seperti set Pokémon terdahulu—misalnya Pikachu atau Charizard raksasa—lini baru ini menyematkan layar digital dan sensor gerak ke dalam beberapa bagian bangunan. Konsepnya mirip petualangan interaktif: pemain bisa "bertarung" atau "menangkap" Pokémon melalui layar yang terintegrasi dengan blok.
Bagi sebagian penggemar, ini bukan yang mereka cari. "Saya beli Lego justru untuk lepas dari layar," tulis salah satu pengguna di forum Pokémon Indonesia. Kekhawatiran lain datang dari sisi durabilitas: komponen elektronik dianggap lebih rentan rusak dibanding bata standar yang bisa bertahan puluhan tahun.
Harga dan Ketersediaan: Belum Ada Kepastian untuk Indonesia
Lego belum merinci harga resmi untuk masing-masing set Smart Play Pokémon, namun seri serupa seperti Lego Super Mario Starter Course dibanderol sekitar $60 (Rp 960 ribu) saat rilis. Jika pola yang sama diterapkan, satu set Pokémon interaktif kemungkinan berada di kisaran harga tersebut—jauh di atas set bata biasa yang bisa dibeli mulai Rp 200 ribuan.
Belum ada konfirmasi apakah lini ini akan masuk pasar Indonesia. Distributor resmi Lego di Tanah Air biasanya merilis produk global dengan jeda beberapa pekan hingga bulan, tergantung permintaan dan regulasi impor mainan elektronik.
Reaksi Keras Kolektor: Antara Gimmick dan Masa Depan Mainan
Kritik paling tajam datang dari kolektor dewasa yang selama ini menjadi pangsa pasar utama Lego Pokémon. Mereka menilai pendekatan "Smart Play" lebih cocok untuk anak-anak, sementara set sebelumnya—seperti Evolved Pikachu atau Eevee—berhasil menarik penggemar lintas usia tanpa perlu tambahan layar.
Di sisi lain, Lego tampaknya ingin menjangkau generasi baru yang terbiasa dengan mainan hybrid fisik-digital. Langkah ini mirip dengan strategi Nintendo yang merilis Labo untuk Switch atau seri Amiibo: menciptakan ekosistem di mana mainan fisik dan permainan digital saling melengkapi.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya
Sejauh ini Lego belum memberikan tanggapan resmi atas gelombang kritik tersebut. Namun sejarah menunjukkan, perusahaan asal Denmark ini cukup responsif terhadap masukan komunitas—seri Lego Ideas lahir dari usulan penggemar, dan beberapa produk kontroversial sempat diubah atau dibatalkan setelah protes massal.
Untuk penggemar Pokémon di Indonesia yang sudah bernapas lega dengan hadirnya set bata klasik tahun lalu, kabar ini mungkin terasa seperti langkah mundur. Tapi satu hal pasti: perdebatan soal sejauh mana mainan fisik boleh "pintar" belum akan selesai dalam waktu dekat.