SULAWESI TENGGARA — Laporan terbaru dari analis industri menunjukkan bahwa tidak ada satu pun perusahaan yang unggul mutlak di segmen robotaxi. Setiap kali pasar mulai menunjukkan arah yang jelas, berita baru dari para kompetitor langsung mengubah kalkulasi. Pekan lalu saja, setidaknya lima nama besar mengumumkan langkah strategis yang saling tumpang tindih.
Waymo Perluas Layanan ke Kota Baru, Uber Siapkan Jaringan Mitra
Waymo, yang sudah beroperasi di San Francisco dan Phoenix, pekan ini mengkonfirmasi ekspansi ke Austin, Texas. Layanan akan menggunakan armada Jaguar I-PACE yang dimodifikasi dengan sensor lidar dan radar generasi kelima. Sementara itu, Uber justru mengambil pendekatan berbeda.
Uber tidak membangun sendiri teknologi otonom, melainkan menggandeng mitra pengembang seperti Wayve dan Motional untuk mengintegrasikan kendaraan otonom ke platform ride-hailing mereka. Langkah ini memungkinkan Uber masuk pasar tanpa beban riset dan manufaktur.
Tesla Cybercab Masuk Jalur Produksi, Target 2026?
Elon Musk kembali menggebrak. Dalam panggilan investor pekan lalu, ia mengklaim Tesla sudah memulai produksi awal Cybercab, kendaraan tanpa setir dan pedal yang dirancang khusus untuk robotaxi. Musk menargetkan volume produksi massal pada 2026, meskipun banyak analis meragukan jadwal tersebut.
Yang menarik, Tesla tidak menggunakan lidar—berbeda dengan Waymo dan Wayve. Sistem Full Self-Driving (FSD) versi terbaru hanya mengandalkan kamera dan neural network. Jika berhasil, pendekatan ini bisa memangkas biaya produksi secara drastis.
Wayve: Pendekatan AI End-to-End dari Inggris
Startup asal Inggris, Wayve, justru tidak fokus pada peluncuran layanan komersial. Pekan ini mereka mengumumkan pendanaan Seri C senilai $1,05 miliar yang dipimpin SoftBank. Wayve mengembangkan sistem otonom berbasis AI end-to-end yang bisa belajar dari data mengemudi mentah tanpa perlu pemrograman aturan manual.
Pendekatan ini dianggap lebih fleksibel untuk diadaptasi berbagai merek mobil. Namun, Wayve belum mengonfirmasi kapan teknologi mereka akan digunakan di jalan raya secara komersial.
Lucid Ikut Meramaikan dengan Teknologi Bantuan Mengemudi
Lucid, produsen mobil listrik mewah asal AS, juga ikut angkat bicara. Mereka mengumumkan bahwa sistem bantuan mengemudi Lucid DreamDrive Pro akan mendapat pembaruan over-the-air besar pada akhir tahun. Fitur terbaru mencakup kemampuan lane change otomatis dan navigasi highway hands-free.
Meski belum masuk segmen robotaxi penuh, langkah Lucid menunjukkan bahwa batas antara ADAS canggih dan otonomi penuh semakin kabur. Semua pabrikan kini berlomba mengumpulkan data mengemudi dunia nyata sebanyak mungkin.
Mengapa Peta Persaingan Sulit Dibaca
Setiap pemain punya strategi dan kelemahan sendiri. Waymo unggul di teknologi dan pengalaman jalan, tapi biaya operasionalnya tinggi. Uber punya jaringan pengguna luas, tapi bergantung pada mitra. Tesla punya skala produksi dan data, tapi pendekatan vision-only dianggap berisiko. Wayve punya AI paling fleksibel, tapi belum terbukti di jalan raya.
Belum lagi faktor regulasi yang berbeda-beda di setiap negara bagian dan negara. Di Indonesia sendiri, layanan robotaxi masih sebatas uji coba terbatas. Namun, perkembangan global ini patut dicermati karena bisa menjadi tolok ukur ketika regulasi lokal mulai longgar.
Yang jelas, satu hal yang pasti: perlombaan ini masih panjang dan belum ada yang finis.