SULAWESI TENGGARA — Tokyo Shoko Research mencatat total utang perusahaan yang bangkrut melonjak signifikan. Penyumbang terbesar berasal dari Zentoshin, perusahaan penyedia sistem transaksi kartu kredit asal Osaka yang menyatakan pailit pada Juli lalu dengan total utang mencapai 115,16 miliar yen atau sekitar Rp12,87 triliun.
Perusahaan Riset Kredit Teikoku Databank Ltd menyebut kebangkrutan Zentoshin kemungkinan menjadi kasus terbesar di Jepang sepanjang tahun ini. Zentoshin diketahui banyak melayani restoran dan pelaku usaha kecil menengah dalam hal pemrosesan pembayaran nontunai.
Beban Upah dan Harga Bahan Baku Menjadi Pemicu Utama
Di luar kasus besar tersebut, tekanan fundamental terlihat dari meningkatnya jumlah kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja. Angkanya mencapai rekor 63 kasus pada Juli, dengan 36 kasus di antaranya dipicu oleh kenaikan biaya tenaga kerja—dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Perusahaan tidak dapat mengatasi kenaikan upah untuk mengamankan tenaga kerja, tapi arus kas mereka memburuk karena menaikkan upah di luar kemampuan ketika tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup,” ujar seorang pejabat perusahaan riset tersebut.
Pelemahan yen turut memperparah kondisi. Kebangkrutan yang disebabkan oleh kenaikan harga meningkat menjadi 93 kasus, tertinggi sejak 2022, karena biaya material dan bahan baku impor ikut melonjak.
Sektor Teknologi Paling Terpukul, Konstruksi Ikut Melemah
Dari sisi sektor usaha, tujuh dari sepuluh sektor mencatat kenaikan kebangkrutan secara tahunan, termasuk konstruksi, ritel, dan transportasi. Sektor informasi dan komunikasi menjadi yang terparah dengan lonjakan 62,5 persen.
Kasus di sektor teknologi mencakup perusahaan perangkat lunak yang semakin terdampak oleh masifnya adopsi teknologi artificial intelligence (AI). Sementara itu, sektor jasa mencatat jumlah kebangkrutan tertinggi secara absolut, yakni 342 kasus.
Mayoritas Korban Adalah Perusahaan Kecil
Skala kebangkrutan didominasi oleh usaha kecil. Perusahaan dengan total utang kurang dari 100 juta yen menyumbang hampir 80 persen dari keseluruhan kasus pada Juli 2026.
Kondisi ini menggambarkan tekanan likuiditas yang berat bagi pelaku usaha kecil di Jepang, yang kesulitan menyeimbangkan kenaikan biaya operasional dengan daya beli domestik yang masih lemah. Tren ini berpotensi berlanjut jika nilai tukar yen tidak stabil dan biaya impor tetap tinggi.