Pencarian

CEO Pivotal Mundur, Perusahaan Mobil Terbang Larry Page Cari Pengganti

Rabu, 02 September 2026 • 07:36:01 WIB
CEO Pivotal Mundur, Perusahaan Mobil Terbang Larry Page Cari Pengganti
Ken Karklin resmi mundur dari jabatan CEO Pivotal setelah memimpin perusahaan eVTOL tersebut selama lebih dari empat tahun.

SULAWESI TENGGARA — Pivotal, perusahaan rintisan yang menggarap pesawat lepas landas dan mendarat vertikal bertenaga listrik (eVTOL), baru saja kehilangan nahkoda. Ken Karklin mundur dari posisi CEO setelah memimpin perusahaan selama lebih dari empat tahun. Kabar ini disampaikan langsung melalui siaran pers resmi perusahaan.

Transisi Kepemimpinan di Pivotal

Perusahaan menyebut Karklin akan "mengejar peluang baru" tanpa memberikan detail lebih lanjut soal alasan kepergiannya. Posisinya kini diisi sementara oleh Mike Ross, eksekutif aviasi yang baru bergabung dengan dewan direksi Pivotal pada November 2025.

"Memimpin Pivotal adalah kehormatan terbesar dalam karier saya. Bersama-sama, kami telah melampaui janji eVTOL ringan dan membuktikannya dalam praktik," ujar Karklin dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa industri ini sudah bergerak melewati tahap prototipe dan siaran pers, kini beroperasi di dunia nyata dengan segala keterbatasannya.

Ross, penggantinya, menegaskan bahwa prioritas dan peta jalan perusahaan tidak akan berubah. Ia menyebut Karklin berperan penting dalam membawa Pivotal ke posisinya sekarang, terutama dalam pendekatan disiplin terhadap keselamatan, teknik, dan aksesibilitas.

Helix: Pesawat Pribadi Rp 3,3 Miliar yang Sudah Dijual

Kepergian Karklin terjadi dua tahun setelah Pivotal mulai memasarkan Helix, pesawat pribadi listrik ringan pertamanya. yang menjadi andalan perusahaan. Helix merupakan pesawat kursi tunggal yang dipasarkan dengan banderol mulai sekitar USD 200.000 atau setara Rp 3,3 miliar.

Keunggulan utama Helix adalah kemampuannya terbang tanpa memerlukan lisensi pilot. Pivotal kini tengah bersiap membawa generasi keempat Helix ke pasar. Beberapa spesifikasi penting Helix yang sudah dipasarkan antara lain:

  • Desain kursi tunggal untuk satu penumpang
  • Tidak memerlukan lisensi pilot untuk mengoperasikannya
  • Harga jual mulai USD 200.000 (sekitar Rp 3,3 miliar)
  • Sejak dipasarkan, pesawat ini sudah terbang lebih dari 10.000 kali

BlackFly dan Kiprah di Sektor Pertahanan

Selain Helix, Pivotal juga mengembangkan BlackFly, pesawat yang dirancang untuk kebutuhan pertahanan dan responden pertama (first responder). Bulan lalu, BlackFly tercatat digunakan untuk merespons keadaan darurat di North Carolina, Amerika Serikat, untuk pertama kalinya.

Perusahaan mengklaim pesawat tersebut tiba 20 menit lebih cepat dibandingkan ambulans yang dikirim secara paralel dalam kejadian itu. Pencapaian ini menjadi bukti nyata pemanfaatan eVTOL untuk situasi darurat di dunia nyata.

Dampak ke Konsumen dan Arah Perusahaan

Kepergian CEO biasanya memicu pertanyaan soal keberlanjutan produk. Namun, Pivotal menegaskan transisi ini tidak mengganggu rencana mereka. Ross memastikan tim, prioritas, dan peta kerja tetap stabil.

Perusahaan juga masih terdaftar dalam program Integrasi eVTOL dari Federal Aviation Administration (FAA). Program ini dirancang untuk meningkatkan pengujian pesawat jenis ini di berbagai wilayah AS. Ini menandakan Pivotal masih memiliki posisi strategis di mata regulator penerbangan Amerika.

Bagi konsumen yang sudah menunggu generasi terbaru Helix, kepemimpinan baru diharapkan bisa menjaga ritme pengembangan. Sementara bagi pengamat industri, langkah ini menjadi ujian bagaimana Pivotal mempertahankan momentum komersialisasi setelah pendirinya hengkang.

Follow liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks