SULAWESI TENGGARA — Amanda Kernell kembali ke layar lebar dengan Brace Your Heart, film yang menempatkan pengampunan sebagai pertanyaan utama. Sutradara yang dikenal lewat Sámi Blood ini membawa cerita tentang Ejva, seorang remaja perempuan Sámi yang harus menggembalakan kawanan rusa kutub milik ayahnya yang telah meninggal.
Film ini diproduksi dengan dukungan TrustNordisk sebagai penjual hak distribusi internasional. Trailer perdananya dirilis eksklusif melalui Variety sebelum penayangan di TIFF dan San Sebastián.
Sinopsis: Beban Ejva dan Harga Sebuah Pertolongan
Dalam Brace Your Heart, Ejva diperankan oleh Elli Sara Valkeapää. Ia terjebak dalam tanggung jawab menggembalakan rusa kutub sendirian sementara keluarganya bergantung padanya. Kondisi ini membuatnya kewalahan.
Ejva kemudian menerima bantuan dari Heaika, yang diperankan Andte Gaup-Juuso. Namun pertolongan itu datang dengan konsekuensi. Situasi makin rumit ketika Ejva jatuh cinta pada sepupu Heaika.
Kernell menggambarkan dilema yang dihadapi tokohnya sebagai cerminan realitas. "Bagaimana Anda membebaskan diri dari trauma, baik sebagai individu maupun kelompok, ketika Anda sangat bergantung satu sama lain?" ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seseorang bisa saja meninggalkan segalanya, tetapi selalu ada pilihan lain. "Meskipun Anda mungkin masih harus tinggal dengan orang-orang yang telah membuat Anda mengalami sesuatu yang brutal," kata Kernell.
Latar Belakang Sámi dan Realitas Penggembalaan Rusa
Kernell memiliki akar Sámi dan sebelumnya telah mengangkat komunitas ini dalam film Sámi Blood. Ia menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi Ejva bukanlah fiksi semata.
"Ini bukan sekadar masalah yang saya 'buat-buat' untuk karakter saya — ini sesuatu yang saya lihat di kehidupan nyata. Saya benar-benar ingin tahu apa solusinya," tegasnya.
Dalam penggembalaan rusa kutub, yang dijalani sebagian besar keluarga Kernell dari pihak ayah, kerja sama adalah keharusan. Tidak ada sinyal telepon, es tipis, dan cuaca berubah sewaktu-waktu.
Kernell menyebut profesi ini sebagai salah satu yang paling mematikan di Swedia. Menurut statistik yang dikutipnya, penggembala rusa kutub berada di urutan kedua setelah pilot militer sebagai pekerjaan paling berbahaya.
"Ada banyak kasus bunuh diri di dunia ini, tetapi ada juga orang-orang yang bertahan dan menemukan cahaya di sisi lain," ujarnya.
Arti Judul dan Proses Produksi
Judul Brace Your Heart diambil dari ungkapan yang digunakan untuk mempersiapkan penggembala rusa kutub muda Sámi menghadapi masa depan sulit. Ungkapan itu mengajarkan mereka untuk mengeraskan hati demi bertahan hidup.
"Anda perlu mengeraskan hati untuk bertahan hidup. Mungkin itulah cara Anda melewati hal-hal sulit, trauma, dan kematian — dan kehidupan yang sangat dekat dengan kematian. Tapi itu bukan jalan menuju cinta," jelas Kernell.
Ejva, kata Kernell, menolak mengeraskan hatinya. "Dia tidak bisa membiarkan hatinya mengeras."
Proses syuting menuntut skala produksi yang lebih besar dari biasanya. Kernell dan sinematografer Sophia Olsson harus berurusan dengan helikopter, mobil salju, dan kereta api.
"Kami bertanya-tanya: 'Kami hanya tertarik pada emosi, jadi mengapa kami merekam semua mobil salju ini?' Tapi ada tempat-tempat yang memancarkan kesepian, dan kami mencoba menemukannya," kenangnya.
Kernell menegaskan bahwa adegan remaja yang menggiring rusa kutub sendirian di pegunungan bukanlah CGI. Ia ingin film ini terasa sangat dekat dengan kenyataan.
Refleksi Tentang Kerja dan Nilai Diri
Film ini membuat Kernell merenungkan bagaimana seseorang mendefinisikan nilai diri melalui pekerjaan. Ia mengaku pernah mengalami gegar otak parah saat membuat film keduanya, Charter.
Selama berbulan-bulan, ia tidak bisa membaca dan penglihatannya kabur. Pengalaman itu membuatnya membayangkan apa yang dirasakan penggembala rusa kutub yang tidak bisa bekerja dengan baik.
"Menjadi penggembala rusa kutub yang tidak bisa bekerja dengan benar pasti seperti menjadi sutradara yang tidak bisa melihat. Untungnya, saya bisa melakukannya lagi," ujarnya.
Brace Your Heart menambah deretan film yang mengangkat komunitas adat dan isu trauma kolektif di festival internasional. Setelah TIFF dan San Sebastián, film ini menunggu jadwal distribusi lebih lanjut dari TrustNordisk.