Pencarian

Modal Pabrik Mini Sawit 10 Ton TBS per Jam Rp 30-40 Miliar

Senin, 21 September 2026 • 15:18:31 WIB
Modal Pabrik Mini Sawit 10 Ton TBS per Jam Rp 30-40 Miliar
Pabrik mini CPO berkapasitas 10 ton TBS per jam memerlukan investasi Rp 30-40 miliar.

SULAWESI TENGGARA — Pembangunan pabrik mini crude palm oil (CPO) berkapasitas 10 ton tandan buah segar (TBS) per jam membutuhkan investasi Rp 30 miliar hingga Rp 40 miliar. Angka itu menjadi acuan bagi koperasi petani sawit yang ingin mengolah sendiri hasil panennya, bukan sekadar menjual TBS mentah. Keterbatasan akses pembiayaan masih jadi batu sandungan utama.

Jakarta. Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Sabarudin menyebut skala investasi sebesar itu masih tergolong berat bagi petani perorangan. Menurut dia, pabrik mini CPO lebih realistis dibangun lewat koperasi yang beranggotakan 1.000 hingga 2.000 petani, dengan total kepemilikan lahan sekitar 5.000 sampai 6.000 hektare.

"Kalau akses pembiayaan untuk pembangunan pabrik itu kan mahal, saya kira butuh investasi yang cukup besar," ujar Sabarudin, mengutip Antara.

Skala koperasi dinilai memungkinkan petani sawit mengembangkan usaha pengolahan CPO, terutama bagi petani swadaya yang selama ini lebih banyak menjual TBS tanpa nilai tambah.

Siapa Petani yang Paling Butuh Pabrik Sendiri

Sekitar 80 persen petani sawit rakyat merupakan petani swadaya. Hanya sekitar 20 persen yang berstatus petani plasma dengan kemitraan perusahaan.

Kelompok swadaya inilah yang paling terdampak ketika harga TBS turun atau pabrik besar menahan pembelian. Mereka tidak punya alternatif pengolahan sendiri.

"Jadi ke depan mungkin arah sawit untuk di petani itu bisa punya pabrik yang mini dan dia bisa kerja sama dengan perusahaan yang besar-besar," kata Sabarudin.

Dorongan Pemerintah dan Skema Pendampingan

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong petani sawit membentuk koperasi dan mengembangkan usaha dari pengelolaan TBS hingga pengolahan CPO. Pemerintah menyiapkan pendampingan, inkubasi, dan akses pembiayaan bagi koperasi yang sudah terbentuk.

"Sekiranya sudah ada yang berbentuk koperasi, kami siap untuk mendampingi, menginkubasi dan akan kami persiapkan untuk diberikan pembiayaannya," kata Ferry.

Kapasitas pabrik yang dikembangkan koperasi petani bisa dimulai dari 10 ton hingga 45 ton TBS per jam. Rentang itu memberi ruang bagi koperasi kecil untuk masuk bertahap tanpa langsung menanggung investasi besar.

Ferry memaparkan luas perkebunan sawit Indonesia sekitar 16 juta hektare. Sebanyak 52 persen dikuasai korporasi besar, 43 persen perkebunan rakyat, dan sisanya BUMN.

Struktur penguasaan itu menjelaskan mengapa sebagian besar pabrik CPO masih dimiliki korporasi besar, termasuk industri produk turunannya seperti minyak goreng.

Contoh Koperasi yang Sudah Jalan

Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, telah memiliki pabrik CPO berkapasitas 45 ton TBS per jam. Koperasi ini menjadi rujukan bahwa skala pengolahan milik petani bukan sekadar wacana.

Bagi petani swadaya, memiliki pabrik sendiri berarti posisi tawar berubah. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada harga yang ditetapkan pembeli TBS di sekitar kebun.

Hambatan tetap ada di sisi modal. Tanpa skema pembiayaan yang terjangkau, pabrik mini senilai Rp 30 miliar hingga Rp 40 miliar tetap sulit dijangkau koperasi petani yang baru berdiri.

Follow liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks