SULAWESI TENGGARA — KAI Commuter tengah menyusun peta jalan pengembangan layanan di sejumlah lintas, mulai dari Cikarang–Cikampek, Bogor–Sukabumi, hingga Green Line Tangerang. Namun, untuk tahap awal, perusahaan memilih memantapkan fondasi teknis di Green Line terlebih dahulu sebelum memperluas jangkauan layanan ke wilayah lain.
Fokus utama KCI saat ini bukan menambah frekuensi perjalanan, melainkan memperkuat pasokan daya listrik. Pasalnya, rangkaian SF12 yang lebih panjang membutuhkan daya tarik yang jauh lebih besar dibandingkan formasi kereta saat ini.
Gardu Baru Jadi Kunci Rangkaian 12 Gerbong
"Yang prioritas adalah kita meng-upgrade gardu, sama menambah beberapa gardu baru sehingga bisa dijalankan SF12," ujar Purnomosidi kepada awak media, Senin (24/8).
Penguatan gardu listrik ini menjadi prasyarat mutlak agar KRL dengan 12 kereta bisa melaju stabil tanpa gangguan pasokan listrik aliran atas (LAA). Dengan begitu, kapasitas angkut penumpang per satu kali perjalanan di Green Line bakal meningkat signifikan, menjawab kepadatan penumpang di jam sibuk.
Meski kapasitas angkut bertambah, KCI belum bisa memangkas waktu tunggu penumpang. Purnomosidi mengakui headway KRL di lintas ini masih akan berkisar 10 menit karena tahap awal pengembangan belum menyentuh sistem persinyalan.
"Masih tetap sama, cuma keretanya jadi panjang," katanya.
Perbaikan Sinyal Jadi Target Berikutnya
Setelah infrastruktur kelistrikan rampung, barulah KCI akan menyentuh sistem persinyalan. Perbaikan sinyal ini menjadi kunci untuk mempersingkat headway dari 10 menit menjadi lebih cepat, sehingga frekuensi perjalanan bisa ditingkatkan.
"Nah setelah itu, target berikutnya adalah memperbaiki persinyalannya agar headway-nya dipersingkat, diperpendek," sambung Purnomosidi.
Dengan skema bertahap ini, KCI memastikan ekspansi layanan KRL Cikarang–Cikampek juga akan mengikuti pola serupa. Artinya, penambahan kapasitas angkut melalui rangkaian panjang menjadi prioritas pertama, baru kemudian peningkatan frekuensi.
Strategi ini dipilih untuk memastikan keandalan layanan tetap terjaga. Pasalnya, menambah frekuensi perjalanan tanpa didukung sinyal yang mumpuni justru berisiko mengganggu ketepatan jadwal dan keselamatan operasional.
Bagi pengguna KRL Green Line, langkah ini berarti dalam waktu dekat mereka akan menikmati kereta yang lebih panjang dengan kapasitas lebih besar. Sementara untuk pemendekan waktu tunggu, masih perlu bersabar hingga sistem persinyalan baru benar-benar terpasang.