KONAWE — Rangkaian Kemah Bakti dan Festival Wisata Bahari Tanjung Lalimbue resmi dimulai di kawasan pesisir Desa Lalimbue, Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Event yang berlangsung 28–30 Agustus 2026 ini dirancang sebagai ruang promosi potensi wisata pesisir sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Konawe, Aswar, menyebut kegiatan ini menjadi yang pertama kali digelar di wilayah pesisir Konawe. Pihaknya bersama APDESI Kabupaten Konawe siap menyukseskan agenda tersebut.
UMKM Lokal Jadi Prioritas Utama
Aswar menegaskan festival ini bukan sekadar ajang rekreasi. Ia berharap perputaran uang dari kegiatan tersebut benar-benar dinikmati oleh pedagang sekitar, bukan pengunjung yang membawa bekal sendiri.
“UMKM keluarga kita pasti hidup. Selain itu, kita juga bisa jadikan kegiatan ini sebagai ajang promosi dan sosialisasi potensi pariwisata kita,” jelas Aswar, Jumat (28/8/2026).
Ia bahkan memberikan imbauan tegas kepada peserta dan pengunjung agar tidak membawa makanan maupun minuman jadi dari luar lokasi. Kebijakan ini diambil supaya penjual lokal mendapat manfaat ekonomi langsung dari keramaian festival.
“Makanya saya sampaikan kepada teman-teman, jangan bawa makanan jadi, agar penjual makanan, minuman, dan UMKM lainnya benar-benar merasakan manfaat kegiatan ini,” katanya.
Menggali Potensi Wisata Tiga Kecamatan
Festival ini tidak hanya menyoroti Tanjung Lalimbue. Aswar menyebut kegiatan tersebut menjadi wadah promosi bagi potensi wisata yang tersebar di Kecamatan Lalonggasumeeto, Soropia, dan Kapoiala.
Dengan menghadirkan pengunjung ke kawasan pesisir, pemerintah daerah sekaligus memperkenalkan destinasi-destinasi lain yang selama ini belum banyak terekspos. Hal ini dinilai sejalan dengan upaya pemerataan pembangunan di wilayah pesisir Konawe.
Harapan Jadi Agenda Rutin Tahunan
Plt Kadis PMD yang juga menjabat Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Konawe itu berharap kegiatan serupa bisa menjadi kalender tetap pemerintah daerah. Menurutnya, festival semacam ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin pemerintah daerah sehingga potensi wisata dan ekonomi kreatif yang ada di daerah dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.