SULAWESI TENGGARA — Angkatan Laut Amerika Serikat dan Royal Navy Inggris berhasil meluncurkan torpedo Mk 48 berbobot 1.680 kg dari kapal selam nirawak XV Excalibur dalam uji coba di Skotlandia. Peluncuran perdana ini menandai pertama kalinya torpedo kelas berat diluncurkan dari kendaraan bawah air otonom, bukan dari kapal selam berawak. Keberhasilan ini membuka jalan bagi interoperabilitas senjata antarnegara sekutu di kawasan Indo-Pasifik.
Uji coba tersebut berlangsung di British Underwater Test & Evaluation Center (BUTEC) di Skotlandia dan menjadi bagian dari Project Broadsword, program kerja sama di bawah pilar kedua AUKUS. Proyek ini melibatkan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia untuk mempercepat pengembangan teknologi pertahanan seperti kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan sistem bawah air otonom.
Torpedo Kelas Berat Pertama dari Platform Nirawak
Mk 48 merupakan torpedo anti-kapal selam dan anti-permukaan kelas berat yang biasa digunakan Angkatan Laut AS dan sejumlah negara sekutu. Senjata sepanjang 1.680 kg ini dirancang untuk menenggelamkan kapal selam yang menyelam dalam serta kapal permukaan berperforma tinggi.
Selama ini, torpedo Mk 48 diluncurkan dari kapal selam berawak dengan kru 100 hingga 140 pelaut yang terlibat aktif. Project Broadsword mencatat sejarah sebagai peluncuran pertama torpedo tersebut dari kapal selam robotik otonom tanpa awak.
Karena XV Excalibur tidak memiliki tabung torpedo internal konvensional, para insinyur memasang torpedo seberat 2 ton itu secara eksternal menggunakan cradle khusus di bawah lambung kapal. Pendekatan ini membuktikan bahwa integrasi muatan kinetik AS ke platform otonom Inggris dapat berjalan secara mekanis, elektris, dan perangkat lunak.
XV Excalibur, Laboratorium Bawah Air Nirawak
XV Excalibur adalah Extra-Large Uncrewed Underwater Vessel (XLUUV) milik Royal Navy yang dirancang beroperasi secara otonom atau melalui kendali jarak jauh tanpa kru di dalamnya. Sebelum uji torpedo, kapal ini berfungsi sebagai laboratorium bawah air bergerak untuk menguji teknologi mutakhir dan muatan masa depan.
Royal Navy sebelumnya mendemonstrasikan kemampuan drone ini pada 2025 dengan mengendalikan Excalibur di perairan Inggris dari pusat komando yang berjarak 10.000 mil di Australia. Kemampuan jangkauan kendali sejauh itu menjadi salah satu fondasi penting bagi operasi bawah air tanpa awak di masa depan.
Dari Persetujuan ke Uji Coba dalam Tujuh Bulan
Project Broadsword mendapat persetujuan pada Februari 2026 dari Department of the Navy Rapid Capabilities Office (DONRCO). Pelaksanaannya melibatkan OPNAV N97, Royal Navy, Defense Innovation Unit (DIU), Naval Undersea Warfare Center (NUWC) Keyport, serta sejumlah mitra industri.
Dari persetujuan hingga uji coba hanya memakan waktu tujuh bulan, sebuah tempo yang tergolong cepat untuk program pertahanan bawah air. Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menyebut uji ini sebagai tonggak bersejarah bagi peperangan bawah air antarnegara sekutu.
"This successful test marks a historic first for allied undersea warfare," ujar Caudle. "Proving that we can seamlessly launch a U.S. heavyweight torpedo from a Royal Navy autonomous underwater vehicle validates our shared vision for true interchangeability."
Menurut Caudle, integrasi senjata, muatan, dan arsitektur misi lintas platform sekutu akan meningkatkan fleksibilitas, skala, dan kekuatan tempur gabungan. Ia menekankan bahwa langkah ini memastikan pasukan gabungan siap menghadapi tuntutan strategis di masa depan.
Lanjutan: Project CUTLASS dan Platform Anduril Dive-XL
Setelah keberhasilan Project Broadsword, Angkatan Laut AS menyatakan akan melanjutkan akselerasi agresif melalui Project CUTLASS bersama para mitranya. Fase berikutnya akan menggunakan platform Anduril Dive-XL untuk menangani integrasi muatan lanjutan, arsitektur komando dan kendali, serta skenario penempatan taktis.
Tujuannya mempermatang kemampuan bawah air tanpa awak secara menyeluruh. Langkah ini juga memperkuat tren peperangan otonom yang berkembang cepat, di mana militer mengerahkan sistem yang mampu menangkap dan memproses data serta menjalankan tugas dengan sedikit atau tanpa intervensi manusia.
Pengembangan serupa juga terjadi di kawasan lain. Pada Agustus, Angkatan Laut AS meluncurkan misil dari kapal layar drone pertamanya. Awal bulan ini, sebuah drone serang NATO otonom menggunakan chip Nvidia Jetson Orin Nano untuk memilih dan membom target secara mandiri.
Bagi pengamat pertahanan Indonesia, uji coba ini menegaskan arah perlombaan teknologi bawah air di Indo-Pasifik yang makin mengandalkan platform nirawak. Negara-negara ASEAN yang memiliki perairan strategis perlu mencermati perkembangan interoperabilitas senjata sekutu, karena hal ini akan memengaruhi peta kekuatan laut regional dalam beberapa tahun ke depan.