KENDARI — Wacana soal sosok yang layak memimpin KKSS Kota Kendari kembali mencuat di kalangan warga perantauan asal Sulawesi Selatan. Ketua BPD KKSS dinilai harus mampu menjadi pammaliang atau pengayom, bukan sekadar figur populer yang dikenal luas. Posisi warga KKSS di Kendari tergolong besar karena turut menggerakkan sektor ekonomi, pendidikan, hingga birokrasi kota.
KKSS di Kendari: Rumah Besar, Bukan Sekadar Paguyuban
Dalam kacamata sosiologi, KKSS di Kendari berfungsi sebagai community of solidarity. Organisasi ini menjadi wadah adaptasi bagi warga yang baru merantau dari Sulsel. Perannya juga sebagai mediator saat terjadi konflik sosial di lingkungan warga.
Fungsi ketiga adalah penggerak ekonomi solidaritas yang berpijak pada semangat abbulo sibatang. Nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi dianggap harus jadi landasan kepemimpinan, yakni saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling memuliakan.
Falsafah Pura Manre Si Manre, Pura Sialle Si Alle turut disitir sebagai ruh kepemimpinan. Artinya, siapa yang sudah makan mengajak yang belum, siapa yang sudah mendapat rezeki mengajak yang belum.
Mengayomi Semua Rumpun, dari Pasar Mandonga hingga Kampus
Ketua KKSS Kota Kendari dinilai tidak boleh hanya menjadi ketua untuk kelompok Bugis Bone, Makassar Gowa, atau Wajo saja. Ia harus menjadi milik semua rumpun yang ada di kota ini.
Warga KKSS di Kendari terdiri dari beragam profesi: pengusaha, ASN, pedagang di Pasar Mandonga, mahasiswa, hingga sopir pete-pete. Semua kalangan itu mesti merasa dirangkul oleh kepengurusan.
Pemimpin yang mengayomi disebut hadir bukan hanya saat pesta, tetapi juga ketika warga tertimpa duka. Ia juga diharapkan hadir saat ada sengketa lahan atau warga berurusan dengan hukum.
Tidak Tipis Telinga: Prinsip Getteng dan Lempu
Pepatah Bugis Taroi Karawu, Nametti Pabbere diingatkan kembali dalam konteks organisasi paguyuban. Maknanya, simpan kebaikan, tapi jangan simpan kebencian.
Penyakit organisasi paguyuban kerap berupa gosip, bisik-bisik, dan adu domba. Ketua yang tipis telinga mudah dihasut oleh satu-dua orang di lingkarannya, bahkan memutuskan silaturahmi hanya karena laporan sepihak.
Nilai Bugis-Makassar mengajarkan Getteng, teguh pada prinsip, dan Lempu, jujur serta adil dalam mengambil keputusan. Ketua diharapkan mendengar semua pihak, mengonfirmasi lewat tabayyun, baru kemudian memutuskan.
Menjaga Kerukunan dengan Tolaki, Muna, dan Buton
Tantangan terbesar KKSS di Kendari hari ini bukan lagi konflik internal sesama Bugis-Makassar. Persoalan utama justru menjaga kerukunan dengan suku Tolaki sebagai tuan rumah, serta suku Muna, Buton, dan etnis lainnya.
Ketua terpilih diharapkan mampu menerjemahkan falsafah Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung secara nyata. Caranya, mengajak warga KKSS menghormati kearifan lokal Kendari dan aktif dalam kegiatan lintas etnis.
Selain itu, ketua didorong menjadi motivator yang mengajak warga meningkatkan kualitas diri. Bukan hanya kumpul-kumpul, tetapi mendorong lahirnya pengusaha baru dan prestasi anak-anak muda KKSS.
Musyawarah Daerah Diminta Jadi Momentum Konsolidasi
Musyawarah Daerah KKSS Kota Kendari dinilai harus menjadi momentum konsolidasi, bukan transaksi. Warga diingatkan agar tidak memilih karena kedekatan darah atau kepentingan politik sesaat.
Tiga sikap sosok ideal digambarkan: hadir saat warga susah, mendengarkan semua pihak saat ada masalah, dan berbicara dengan ajakan rukun bukan ajakan berkelompok.
Harapannya, BPD KKSS Kota Kendari ke depan dipimpin nakhoda yang mampu membawa kapal besar ini berlayar aman di Teluk Kendari. Layar terkembang dengan tulisan Satu Keluarga, Satu Hati, untuk Kendari yang Rukun.