Konawe Selatan — Kolaborasi intensif antara Balai Riset dan Inovasi (BRIN) Sultra dan Badan Riset dan Pengembangan Daerah (BRIDA) Konawe Selatan kini mempercepat pengembangan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan perkebunan di Sulawesi Tenggara. Dengan potensi luas lahan mencapai 18.340 hektar, wilayah yang total luasnya 451.420 hektar ini sedang ditingkatkan produktivitasnya melalui program dukungan terstruktur kepada petani rakyat.
Potensi Lahan Sawit Sultra Terus Berkembang
Data terkini menunjukkan pengembangan kelapa sawit di Sulawesi Tenggara telah mencapai luas lahan lebih dari 61 ribu hektar pada 2024, didukung oleh lebih dari 15 perusahaan dan 8 pabrik pengolahan kelapa sawit. Konawe Selatan menjadi sentral produksi terbesar dengan kontribusi lahan mencapai hampir sepertiga dari total provinsi.
Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan terus memperkuat sinergi lintas instansi untuk menyukseskan program ini. Fokus pengembangan tidak hanya pada peningkatan luas lahan, melainkan juga produktivitas petani rakyat melalui optimalisasi pengelolaan perkebunan berkelanjutan yang sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 2 Tahun 2025.
Dukungan Teknologi dan Inovasi dari Lembaga Riset
Kepala BRIDA Konawe Selatan, I Putu Darta, menegaskan komitmen institusinya dalam riset dan pengembangan komoditas perkebunan, terutama kelapa sawit. "Saat ini kita menunjukkan bahwa sinergitas antara BRIN Sultra dan BRIDA Konawe Selatan berjalan dengan baik. Peran kami adalah memastikan para petani mendapatkan dukungan penuh, mulai dari penyediaan bibit unggul, suplai pupuk, kegiatan demplot hingga pendampingan teknis melalui BRIN, BRMP, Dinas Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, penyuluh lapangan, Gapoktan, Koperasi dan praktisi," ujarnya.
BRIN Sultra akan menghadirkan beberapa inovasi dalam pengolahan kelapa sawit, termasuk pabrik minyak goreng skala rumah tangga dengan sistem modular, produksi biodiesel, dan pengolahan minyak CPO. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sawit masyarakat.
Integrasi dengan Program Ketahanan Pangan dan Energi
Fokus pengembangan kelapa sawit Konawe Selatan terintegrasi dengan program swasembada pangan dan energi nasional. Petani didorong menerapkan sistem tumpang sari, yaitu mengintegrasikan tanaman pangan seperti padi gogo di antara pohon kelapa sawit. Strategi ini memastikan ketersediaan bahan baku industri tetap stabil sambil memenuhi kebutuhan pangan lokal.
Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, melalui Visi-Misi Bupati Irham Kalengo bernama program SETARA, menekankan pentingnya stok bahan baku berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga TBS (Tandan Buah Segar) di pasar. Langkah ini sejalan dengan upaya penataan ekonomi kabupaten menuju status kabupaten industri.
Kolaborasi Multipihak dan Pengembangan UMKM
Penerapan inovasi dan program pengembangan sawit di Konawe Selatan melibatkan kolaborasi dengan beberapa Gapoktan (gabungan kelompok tani), kabupaten lain sebagai mitra, serta pengembangan UMKM untuk menyuplai bahan baku. Strategi ini bertujuan menjadikan perkebunan Konawe Selatan lebih produktif dan menciptakan ekosistem agribisnis yang berkelanjutan.
Kegiatan sepanjang 2026 ini diharapkan menjadi semangat bagi sektor perkebunan Konawe Selatan serta memperkuat cadangan energi dan pangan daerah. Kesuksesan program akan membuktikan bahwa lahan perkebunan dan lahan tidur, jika dikelola dengan baik, dapat menghasilkan produktivitas tinggi dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemerintah Konawe Selatan berkomitmen membuka ruang kolaborasi bagi institusi manapun yang ingin memajukan sektor perkebunan dan pangan demi menyukseskan swasembada energi nasional dan kesejahteraan masyarakat setempat.