Kendari — Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari mempersiapkan protokol kesehatan khusus bagi 546 calon jamaah haji kota ini yang akan keberangkatan dalam sepekan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kendari Hasria mengidentifikasi cuaca panas ekstrem sebagai ancaman utama, dengan proyeksi suhu di Tanah Suci mencapai 40 derajat Celsius selama periode ibadah.
Kelima kelompok terbang (kloter 32, 34, 36, 39, dan 43) akan diberangkatkan melalui tiga penerbangan pada 12 Mei dan satu penerbangan pada 13 Mei 2026. Pemkot telah melakukan persiapan matang sejak fase pendaftaran untuk memastikan kondisi fisik dan mental setiap jemaah dalam standar optimal.
Tiga Gangguan Kesehatan Ancam Jemaah
Hasria merinci gangguan kesehatan yang potensial menyerang jemaah haji selama ibadah. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit paling sering terjadi, dipicu kombinasi cuaca ekstrem, kelelahan fisik, dan penularan dalam kerumunan jamaah.
"Cuaca ekstrem berpotensi memicu gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA biasanya dipicu oleh cuaca ekstrem, faktor kelelahan, serta penularan saat berada di tengah kerumunan," kata Hasria.
Selain ISPA, dua gangguan lain mengancam: penyakit jantung dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Kedua kondisi ini tidak selalu berasal dari riwayat penyakit bawaan, melainkan dapat dipicu kelelahan hebat selama menjalankan rangkaian ibadah haji yang fisik dan mental.
Persiapan Fisik dan Peralatan Kesehatan Mandiri
Dinkes Kota Kendari mewajibkan setiap calon jamaah membawa perlengkapan pelindung kesehatan secara mandiri sebelum keberangkatan. Daftar perlengkapan mencakup vitamin, obat-obatan pribadi, masker, kacamata hitam, dan payung untuk melindungi dari paparan sinar matahari langsung yang intens.
Hasria menekankan jemaah harus mempertahankan asupan cairan cukup selama di Tanah Suci untuk menghindari dehidrasi, penyebab umum komplikasi kesehatan saat ibadah. Aktivitas ibadah juga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh individual, bukan memaksakan diri mengikuti rutinitas kelompok jika tubuh menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
"Jemaah juga diminta menjaga asupan cairan agar terhindar dari dehidrasi. Jamaah juga harus menyesuaikan aktivitas ibadah dengan kondisi tubuh masing-masing," jelas Hasria.
Koordinasi dengan Kemenhaj Kendari
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Kendari Sunardin memastikan setiap kelompok terbang telah melalui briefing kesehatan sebelum penerbangan. Koordinasi antara Pemkot, Dinkes, dan Kemenhaj menghasilkan protokol kesehatan bersama yang disesuaikan dengan kondisi lapangan di Arab Saudi.
Sunardin menambahkan bahwa pemantauan kesehatan jemaah akan dilanjutkan secara berkala selama periode ibadah melalui petugas kesehatan yang ditugaskan di setiap kloter. Sistem reporting real-time memungkinkan Dinkes Kendari menerima laporan kondisi jemaah dan memberikan intervensi cepat jika diperlukan.