SULAWESI TENGGARA — Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, fluktuasi produksi sepanjang Januari-Mei 2026 dipicu oleh tiga insiden operasional yang terjadi beruntun.
"Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus (TGI) sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti," kata Djoko dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI beberapa hari lalu.
Pipa yang dimaksud adalah jaringan Trans Gas Indonesia (TGI). Begitu pipa diperbaiki, produksi langsung melonjak di Februari. Namun, masalah baru muncul di bulan berikutnya.
Di Blok Rokan, Riau, terjadi gangguan kelistrikan di pembangkit listrik milik Pertamina Hulu Rokan (PHR). Bersamaan dengan itu, Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu— ladang minyak raksasa andalan nasional—mengalami penurunan tekanan reservoir.
"Dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," tegas Djoko.
Produksi Anjlok di Januari, Puncak di Maret, Loyo Lagi di Kuartal II
Data operasional SKK Migas menunjukkan produksi gabungan (minyak, kondensat, NGL) Januari 2026 hanya 528.099 BOPD. Angka itu adalah titik terendah dalam lima bulan pertama tahun ini.
Setelah gangguan pipa teratasi, produksi naik ke 590.315 BOPD pada Februari dan mencapai puncak 599.422 BOPD pada Maret. Memasuki kuartal kedua, tren kembali menurun: 586.665 BOPD pada April dan 577.874 BOPD pada Mei.
Artinya, dalam dua bulan terakhir, produksi sudah kehilangan sekitar 21.500 barel per hari dari puncak Maret.
Optimisme di Tengah Tekanan: Pengeboran Dipercepat, Fasilitas Dibenahi
Meski angka produksi masih di bawah target, SKK Migas menyatakan optimistis bisa mengejar sisa 5,6 persen hingga akhir tahun. Strateginya mencakup tiga jalur sekaligus.
Pertama, optimalisasi sumur-sumur eksisting yang sudah berproduksi. Kedua, percepatan pengeboran sumur pengembangan baru. Ketiga, peningkatan keandalan fasilitas produksi agar gangguan serupa tidak terulang.
"Kami terus melakukan berbagai upaya percepatan dan perbaikan operasi bersama KKKS agar produksi dapat terus ditingkatkan dan target tahun 2026 sebesar 610 ribu BOPD dapat dicapai," ujar Djoko.
Jika target itu tercapai, produksi minyak nasional akan kembali mendekati level yang dibutuhkan untuk menekan impor dan menjaga defisit neraca migas. Namun, dengan dua blok utama—Rokan dan Cepu—yang masih rapuh secara operasional, jalan menuju angka itu masih terjal.