KENDARI — Peluncuran GEMA MOBASA di SDN 35, Jalan Badak, Kecamatan Poasia, bukan sekadar seremoni. Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari, M. Akrim Kurdin, menegaskan bahwa gerakan ini dirancang untuk membangun sinergi lintas sektor—mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Camat Poasia, hingga Forum Anak Kota Kendari.
“GEMA MOBASA merupakan langkah nyata pemerintah kota dalam mewujudkan transformasi perpustakaan yang inklusif, sehingga akses terhadap ilmu pengetahuan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak pada satuan pendidikan dasar,” ujar Akrim di hadapan para guru dan siswa.
Membaca Bukan Lagi Sekadar Kemampuan, Tapi Kebutuhan Dasar
Bunda Literasi Kota Kendari, Shintya Putri Anawula Sudirman, yang membuka kegiatan secara resmi, menyoroti tantangan literasi di era digital. Menurutnya, derasnya arus informasi justru membuat kemampuan memilah dan memahami bacaan menjadi semakin krusial.
“Melalui GEMA MOBASA, kita ingin menegaskan bahwa literasi adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Membaca harus menjadi budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegas Shintya.
Ia menambahkan, penumbuhan minat baca harus dimulai dari lingkungan terkecil: keluarga. Kebiasaan sederhana seperti membaca nyaring (read aloud), mendongeng, dan menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama dinilai lebih efektif daripada program besar yang hanya bersifat proyek.
Dorong Sudut Baca di Rumah dan Perpustakaan Jadi Pusat Belajar
Shintya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan sudut-sudut baca di rumah dan mengoptimalkan peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat. Ia berpesan langsung kepada siswa SDN 35 Kendari: “Untuk anak-anakku tercinta, jangan pernah lelah untuk membaca karena buku adalah jendela dunia. Dengan membaca, kalian bisa bermimpi setinggi langit dan meraih masa depan yang gemilang.”
Acara peluncuran turut dihadiri jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Plt. Camat Poasia beserta para lurah se-Kecamatan Poasia, pegiat literasi, dan perwakilan orang tua murid. Kehadiran lintas elemen ini menjadi sinyal bahwa GEMA MOBASA tidak akan berjalan sendiri—melainkan digerakkan bersama dari sekolah, rumah, hingga lingkungan sekitar.