SULAWESI TENGGARA — Menurut laporan Wired yang dikutip TechCrunch, ketegangan di Meta memuncak ketika seseorang membajak sesi presentasi internal yang disiarkan langsung pekan lalu. Pelaku melontarkan makian dan menuntut hadirin untuk menyampaikan kepada seorang eksekutif senior AI Meta bahwa ia adalah "sampah." Seorang presenter disebutkan menutup wajahnya dengan tangan.
Insiden itu menjadi puncak dari kemarahan yang sudah lama terpendam di unit Applied AI, yang terdiri dari sekitar 6.500 engineer dan manajer produk. Mereka ditugaskan untuk mendukung ambisi riset AI perusahaan. Masalahnya, banyak dari mereka yang dipindahkan secara paksa. Sebuah laporan Business Insider pada bulan lalu mengungkap bahwa karyawan mengetahui pemindahan mereka melalui email mendadak—sebuah proses yang oleh salah satu karyawan di Reddit disebut "cukup acak."
Dalam rekaman audio dari pertemuan internal yang bocor bulan lalu, CEO Mark Zuckerberg menjelaskan alasannya memilih merekrut dari dalam daripada kontraktor luar. Ia mengklaim bahwa rata-rata karyawan Meta memiliki kecerdasan yang "jauh lebih tinggi" dibanding kontraktor pihak ketiga, sehingga mereka menjadi pilihan yang lebih baik. Para karyawan yang dijuluki "draftees" (wajib militer) ini hanya diberi dua pilihan: bergabung atau keluar.
Tugas "Soul-Crushing": Membuat Soal untuk Melatih AI
Tugas utama para draftee ini adalah membuat teka-teki dan soal coding untuk melatih model AI Meta. "Ini benar-benar gulag," kata seorang karyawan kepada Wired. Karyawan lain menambahkan, "Kebanyakan orang menganggap pekerjaan ini menghancurkan jiwa."
Suasana suram ini tidak hanya terjadi di unit Applied AI. Lebih dari 1.600 karyawan Meta di seluruh perusahaan dilaporkan telah menandatangani petisi yang menentang program pemantauan klik dan ketukan keyboard mereka untuk data pelatihan AI. Suasana hati di perusahaan disebut cukup gelap sehingga Chief Product Officer Meta, Chris Cox, merasa perlu membahas lingkungan kerja yang "brutal" dalam sebuah panggilan dengan karyawan pekan ini.
Struktur Tim dan Pengakuan Manajemen
Divisi Applied AI dipimpin oleh Maher Saba, veteran Meta selama 12 tahun yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di Reality Labs—divisi yang telah menghabiskan USD 83 miliar (sekitar Rp 1.369 triliun) untuk metaverse sebelum Meta beralih fokus ke AI. Unit baru ini berada di bawah komando CTO Andrew Bosworth. Awalnya, struktur tim dibuat sedemikian rupa sehingga hingga 50 karyawan melapor ke satu manajer.
Menanggapi gejolak ini, Zuckerberg dilaporkan mengirimkan memo internal pada Jumat lalu. Dalam memo tersebut, ia mengakui bahwa perubahan baru-baru ini telah "menyebabkan kesusahan" dan mengakui bahwa perusahaan telah membuat kesalahan yang akan diperbaiki. Ia menambahkan, "Bintang utara Meta adalah menjadi tempat terbaik bagi orang-orang paling berbakat di dunia untuk memberikan dampak."
Hingga berita ini diturunkan, Meta belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari TechCrunch.