Benteng Keraton Buton di Kota Baubau bukan sekadar tumpukan batu kapur. Ini adalah benteng terluas di dunia versi Guinness World Records, dengan keliling hampir 4 kilometer. Dinding setinggi 2-8 meter ini dibangun abad ke-16 oleh Sultan Buton III, La Sangaji, tanpa semen—hanya teknik interlocking batu yang membuatnya kokoh hingga kini. Dari puncak benteng, kamu bisa melihat Selat Buton dan aktivitas nelayan di bawah. Tiket masuk Rp10.000 per orang, buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WITA. Naik ojek dari pusat kota Baubau cuma Rp15.000.
1. Benteng Keraton Buton: Sak Bisu Kesultanan Buton
Benteng ini punya 12 pintu gerbang yang melambangkan 12 kampung adit (suku) di Buton. Di dalamnya ada Masjid Keraton yang dibangun tahun 1712, dengan mimbar kayu jati berukir tanpa paku. Pengunjung bisa masuk ke museum kecil di area benteng yang menyimpan singgasana sultan, keramik Tiongkok, dan naskah kuno. Pemandu lokal biasanya minta tip sukarela Rp20.000-Rp50.000 untuk cerita lengkap soal sejarah benteng.
2. Pesta Adat Karia: Ritual Inisiasi Perempuan Muna
Setiap tahun antara Juni dan Agustus, di Kabupaten Muna, ribuan perempuan muda menjalani Karia—ritus kedewasaan yang berlangsung seminggu. Mereka dipingit di rumah adat, belajar memasak, menenun, dan etika sosial. Puncak acara adalah kenduru (syukuran) dengan tarian dan musik gendang. Wisatawan boleh hadir di hari terakhir, asal pakai kain sarung dan ikut aturan adat. Tidak ada tiket, cukup bawa bingkisan makanan untuk keluarga tuan rumah. Cek jadwal pasti di kantor Dinas Pariwisata Muna minimal sebulan sebelum datang.
3. Tari Lumense dari Buton Utara
Tarian perang ini dibawakan 6-8 penari laki-laki dengan kostum serba merah-hitam dan pedang asli. Gerakannya cepat, menghentak, dan diiringi gong serta gendang. Dulu, Lumense dipentaskan sebelum perang untuk mengumpulkan semangat prajurit. Kini kamu bisa lihat di acara Festival Kota Baubau setiap Oktober, atau sewa kelompok tari dari Sanggar Seni La Ode Malim di Kelurahan Wajo. Sewa untuk 30 menit sekitar Rp1,5 juta-Rp2 juta.
4. Makam Sultan Buton Pertama: Ziarah di Kelurahan Wolio
Makam Sultan Murhum (Sultan Buton I) ada di kompleks pemakaman tua di Kelurahan Wolio, Baubau. Nisannya dari batu andesit dengan ukiran kaligrafi khas Kesultanan Buton. Lokasinya di lereng bukit, naik 50 anak tangga. Warga setempat percaya makam ini keramat—pengunjung dianjurkan pakai baju sopan (bawahan panjang, tidak pakai sandal jepit). Tidak ada tiket, tapi kotak amal tersedia. Waktu terbaik ziarah pagi hari pukul 07.00-09.00 WITA agar tidak terlalu panas.
5. Tenun Buton: Kain Kebesaran dengan Motif Filosofis
Kain tenun Buton bukan sekadar kain. Motifnya seperti kala tipu (ombak) dan lili ana (pucuk rebung) mengandung doa dan status sosial. Proses menenun bisa 2-3 bulan untuk satu lembar kain sutra. Kamu bisa beli langsung di sentra tenun Kelurahan Baadia, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Harga mulai Rp300.000 untuk kain katun, hingga Rp2,5 juta untuk sutra asli. Tawar-menawar biasa, tapi jangan potong harga lebih dari 30%—penenun butuh waktu dan keahlian tinggi.
6. Masjid Al-Alam: Masjid Terapung di Teluk Kendari
Masjid ini berdiri di atas air Teluk Kendari, tepatnya di Jalan Bungkutoko. Dibangun 2010, arsitekturnya memadukan gaya Timur Tengah dan lokal Sulawesi Tenggara. Kubahnya biru kehijauan, lantai marmer putih, dan jendela kaca besar yang menghadap laut. Saat air pasang, masjid ini benar-benar tampak mengapung. Buka 24 jam untuk salat, wisatawan non-muslim bisa masuk area luar sampai pukul 21.00 WITA. Parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000. Waktu magrib adalah momen terbaik untuk foto—langit jingga memantul di air teluk.
7. Festival Teluk Kendari: Perpaduan Budaya dan Laut
Setiap April-Mei, Teluk Kendari jadi panggung lomba perahu hias, lomba dayung tradisional, dan pameran UMKM. Ribuan warga memadati tepian Pantai Nambo dan Pantai Toronipa. Acara puncak adalah kirab budaya dari 17 kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara. Tidak ada tiket masuk, tapi siapkan uang tunai untuk jajanan lokal seperti kapurung (sagu kuah ikan) dan pisang epe. Datang sebelum pukul 08.00 WITA untuk dapat tempat duduk di tribun utama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa destinasi sejarah paling ikonik di Sulawesi Tenggara?
Benteng Keraton Buton di Kota Baubau adalah destinasi paling ikonik. Benteng ini tercatat sebagai benteng terluas di dunia dan pusat Kesultanan Buton yang berkuasa dari abad ke-16 hingga 20.
Kapan waktu terbaik mengunjungi Sulawesi Tenggara untuk wisata budaya?
April hingga Oktober. Saat musim kemarau, banyak festival seperti Festival Teluk Kendari (April-Mei) dan Festival Kota Baubau (Oktober). Hindari Januari-Maret karena hujan deras bisa mengganggu akses ke lokasi adat.
Apakah ada aturan khusus saat mengunjungi situs adat?
Ya. Di Makam Sultan Buton dan area adat Muna, pengunjung harus pakai kain sarung dan bawahan panjang. Lepas alas kaki di area makam. Jangan memotret tanpa izin pemuka adat.
Berapa biaya minimum untuk wisata budaya 3 hari di Baubau?
Sekitar Rp500.000 per orang di luar tiket transportasi. Rincian: penginapan homestay Rp150.000/malam, makan Rp50.000/hari, transportasi lokal Rp50.000/hari, tiket destinasi Rp30.000.
Bagaimana cara ke Benteng Keraton Buton dari Kendari?
Naik kapal ferry dari Pelabuhan Kendari ke Pelabuhan Baubau. Waktu tempuh 5-6 jam, tarif Rp80.000-Rp120.000 per orang (ekonomi). Dari pelabuhan Baubau, lanjut ojek 10 menit ke benteng.
Sejarah dan budaya Sulawesi Tenggara bukanlah koleksi museum yang beku. Ritual Karia masih dijalani, benteng masih dijaga, dan tenun masih ditenun dengan tangan. Datanglah dengan rasa hormat, dan biarkan tanah Buton bicara lewat cerita batunya.