Pencarian

1.000 Petani Indramayu Tagih Air, Mentan Amran Siap Alihkan Anggaran

Jumat, 25 September 2026 • 10:19:31 WIB
1.000 Petani Indramayu Tagih Air, Mentan Amran Siap Alihkan Anggaran
Menteri Pertanian Amran menerima sekitar 1.000 petani Indramayu di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

SULAWESI TENGGARA — Menteri Pertanian Amran menerima sekitar 1.000 petani Indramayu di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (24/9/2026), yang mengeluhkan keterbatasan air irigasi. Amran menyatakan siap mengalihkan anggaran Kementerian Pertanian untuk mempercepat pembangunan saluran pengairan dari Bendungan Cipanas. Persoalan ini menyangkut nasib petani sawah tadah hujan yang hanya bisa panen sekali setahun meski menanam dua kali.

Kedatangan para petani ke Kantor Kementan bukan tanpa alasan. Sebagian dari mereka berangkat selepas salat subuh untuk menyampaikan langsung persoalan yang sudah bertahun-tahun menghambat produksi. Sumber air dari Bendungan Cipanas sebenarnya hanya berjarak 1 hingga 5 kilometer dari lahan mereka, tetapi saluran pengairan menuju sawah belum tersedia.

Pemerintah sebelumnya sudah mendata kebutuhan jalur irigasi sepanjang sekitar 24,75 kilometer. Namun hingga pertemuan berlangsung, saluran tersebut belum dibangun. Keterbatasan air membuat petani yang mengandalkan sawah tadah hujan hanya mampu memanen satu kali dalam setahun, walau sudah dua kali menanam.

Keluhan yang Sama, Bertahun-tahun

Salah seorang petani menyampaikan curahan hatinya langsung di hadapan Mentan. "Pak Amran, kami petani tadah hujan. Sudah lama. Tiap tahun nanam dua kali, tapi yang panen cuma satu kali," ujarnya.

Selain soal saluran irigasi, petani meminta tambahan irigasi perpompaan (irpom). Bantuan yang mereka terima selama ini dinilai belum menjangkau seluruh lahan yang butuh pengairan. Harapan mereka, 24 basis kelompok petani bisa mendapatkan dukungan irpom dalam jumlah setara.

"Harapan kami, berhubung kami di 24 basis, agar diupayakan juga mendapatkan 24 irpom tersebut," kata perwakilan petani.

Amran Telepon Balai Wilayah Sungai

Menanggapi keluhan tersebut, Amran langsung menghubungi Balai Wilayah Sungai (BWS) Cisanggarung. Ia menanyakan progres pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) dan infrastruktur pengairan dari Bendungan Cipanas menuju lahan pertanian.

"Ini sudah dua tahun didemo. Ini rakyat kita, ini saudara kita, ini anak kita. Apa bisa, bagaimana programnya progresnya? Karena ini sudah dicek dulu," kata Mentan saat menghubungi BWS Cisanggarung.

Amran juga meminta persoalan irigasi di sejumlah wilayah lain, termasuk Kroya, Gantar dan sekitarnya, dikawal hingga tuntas. Menurutnya, pemerintah harus segera mencari jalan keluar bila pembangunan infrastruktur pengairan membutuhkan anggaran tambahan.

Anggaran Kementan Siap Dialihkan

Amran menyatakan siap memindahkan anggaran Kementerian Pertanian untuk menyelesaikan persoalan air tersebut. Ia menegaskan langkah itu semata-mata demi melayani kebutuhan petani.

"Kalau tidak ada anggarannya, saya pindahkan dari Kementerian Pertanian. Bisa? Berapa biayanya? Bisa tidak selesai masalah ini? Inilah gunanya kita melayani rakyat," tegas tokoh yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.

Pembangunan infrastruktur irigasi sendiri merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum. Amran meminta pekerjaan itu tidak berlarut-larut agar petani segera mendapat kepastian pengairan.

"Kalau tidak selesai, berapa lama pengerjaan irpom? Dua bulan?" ujar dia.

Kementerian Pertanian, kata Amran, siap mendukung kebutuhan pompa, sementara pembangunan saluran irigasi perlu ditindaklanjuti bersama kementerian terkait. Ia meminta koordinasi Kementan dan Kementerian PU diperkuat untuk mempercepat penyelesaian masalah air petani.

Bagi petani Indramayu, kepastian pengairan bukan sekadar soal satu musim tanam. Tanpa saluran irigasi dari Bendungan Cipanas, hasil panen mereka akan terus tertahan di angka satu kali setahun, sementara biaya produksi tetap dikeluarkan untuk dua kali tanam.

Follow liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks