SULAWESI TENGGARA — Pemerintah memutuskan untuk menginjeksi anggaran segar ke dalam perekonomian di paruh kedua tahun ini. Paket stimulus senilai Rp26,34 triliun itu menyasar tiga sektor utama: transportasi, program magang dan vokasi, serta bantuan pangan. Airlangga menegaskan kebijakan ini tidak mengubah target defisit APBN yang telah ditetapkan.
“Defisit fiskal aman,” ujar Airlangga Hartarto dalam pernyataan resmi di Jakarta, kemarin.
Alokasi Anggaran: Bantuan Pangan Mendominasi Rp18 Triliun
Dari total pagu stimulus, alokasi terbesar mengalir ke sektor pangan. Bantuan pangan mendapatkan jatah Rp18,04 triliun, atau sekitar 68,5 persen dari keseluruhan paket. Sektor transportasi menerima insentif sebesar Rp2,04 triliun, sementara program magang dan vokasi mengantongi dana Rp6,26 triliun.
Pemerintah berharap injeksi ini bisa menjaga daya beli masyarakat sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan global. Langkah ini diambil di saat pendapatan negara menunjukkan sinyal positif.
Tekanan Eksternal Mengintai, Defisit Berpotensi Melebar
Meski stimulus disebut aman, bayang-bayang pelebaran defisit tetap membayangi. Pemerintah sebelumnya mematok target defisit APBN 2026 di angka 2,68 persen terhadap PDB, setara Rp689,1 triliun. Namun, lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah memicu kalkulasi baru.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar hingga kisaran 2,90 persen dari PDB. Angka ini masih di bawah batas aman yang ditetapkan undang-undang, namun tetap menjadi sinyal waspada bagi pengelola fiskal.
Kinerja APBN per Mei: Pendapatan Tumbuh 19%, Belanja Melonjak 34%
Berdasarkan data terbaru Kementerian Keuangan, realisasi APBN hingga Mei 2026 menunjukkan tren ekspansif. Defisit tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70 persen dari PDB. Pendapatan negara berhasil mengumpulkan Rp1.185 triliun, setara 37,6 persen dari target Rp3.153,6 triliun. Capaian ini mencatat pertumbuhan 19,1 persen secara tahunan.
Di sisi belanja, realisasi menembus Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu Rp3.842,7 triliun. Lonjakan belanja tercatat tajam, yakni 34,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan pemerintah sedang gencar mengakselerasi penyerapan anggaran untuk menopang ekonomi.
Dengan tambahan stimulus Rp26,34 triliun, tekanan terhadap belanja negara akan semakin besar di sisa tahun. Namun, pemerintah optimistis pertumbuhan pendapatan yang kuat mampu mengimbangi ekspansi fiskal tersebut tanpa mengorbankan stabilitas defisit.