SULAWESI TENGGARA — Proyeksi itu disampaikan Direktur Bank Jago Supranoto Prajogo dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026). Ia menyebut penyesuaian suku bunga acuan bank sentral berdampak langsung pada biaya penghimpunan dana perbankan, termasuk bank digital.
Per Juni 2026, cost of fund Bank Jago tercatat 3,5 persen. Dua bulan berselang, posisinya bergeser ke 3,8 persen. Jika dinamika pasar moneter bertahan hingga penutupan tahun, tren kenaikan diperkirakan berlanjut secara bertahap.
Tiga Kenaikan BI Rate Jadi Pemicu
Bank Indonesia menempuh pengetatan moneter agresif sepanjang kuartal II-2026 untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam ketidakpastian geopolitik global. Akumulasi kenaikan mencapai 100 bps melalui beberapa tahapan Rapat Dewan Gubernur.
- Mei 2026: BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25 persen
- Juni 2026: dua kali penyesuaian (RDG mingguan dan bulanan) masing-masing 25 bps
- Posisi akhir: BI Rate menyentuh 5,75 persen
Supranoto menyebut kenaikan bertahap itu memaksa perbankan menyesuaikan bunga simpanan agar tetap kompetitif menarik dana masyarakat. Imbasnya, beban bunga yang dibayarkan bank ikut membengkak.
Tekanan Berlaku ke Seluruh Bank, Bukan Hanya ARTO
Manajemen Bank Jago menegaskan lonjakan biaya dana bukan fenomena eksklusif perseroan. Seluruh bank menghadapi kondisi serupa pascakenaikan suku bunga acuan.
"Tentunya ini tidak hanya berlaku untuk Bank Jago saja tapi keseluruhan industri perbankan di Indonesia," ujar Supranoto.
Ia menambahkan, kenaikan cost of fund otomatis memberi tambahan bunga kepada nasabah penyimpan. Namun dari sisi bank, beban tersebut menggerus margin bunga bersih jika tidak diimbangi kenaikan suku bunga kredit.
Apa Artinya bagi Pemegang Saham ARTO
Bagi investor, proyeksi ini menjadi sinyal bahwa ruang ekspansi margin Bank Jago bakal lebih ketat pada semester II-2026. Cost of fund yang naik dari 3,5 persen ke 4,1 persen berarti tambahan beban sekitar 60 bps dalam enam bulan.
Selama bank belum menaikkan suku bunga kredit secara proporsional, net interest margin (NIM) berpotensi tertekan. Sebaliknya, jika penyaluran kredit ikut disesuaikan, risiko kenaikan kredit bermasalah perlu dicermati.
Supranoto menuturkan, perseroan masih mengharapkan peningkatan cost of fund di kisaran 4,0–4,1 persen hingga akhir tahun, dengan catatan kondisi pasar moneter tidak berubah signifikan dari posisi saat ini.
Investasi mengandung risiko.