KENDARI — Ridwan Badala berjalan kaki menyusuri kawasan wisata Goa Liangkabori yang menyimpan jejak peradaban manusia 67.800 tahun sebelum masehi. Ia mengecek langsung titik panggung utama, area UMKM, hingga penginapan yang akan digunakan pengunjung pada perayaan HUT desa ke-29 bertema "Namaigho te Wuna so djunia" (Datang dari Muna untuk Dunia).
Akses Licin, Toilet Kurang, dan Gelapnya Malam
Dari hasil peninjauan, Kadisparprov mencatat tiga pekerjaan rumah besar yang harus segera dirampungkan. Pertama, akses jalan menuju goa prasejarah masih licin saat hujan. Kedua, kapasitas toilet umum belum mampu menampung lonjakan pengunjung saat puncak festival. Ketiga, penerangan di malam hari dinilai masih minim untuk mendukung aktivitas wisata.
"Kami akan melakukan komunikasi dengan Gubernur Sultra terkait kekurangan yang ada agar segera dilakukan pengembangan kawasan. Pengalaman pengunjung itu nomor satu," tegas Ridwan di sela peninjauan.
Selebrasi Budaya: Dari Layang-Layang hingga Tenun Muna
Ketua panitia festival, La Ode Narten, S.Pd, merinci enam perlombaan yang akan digelar. Lomba tersebut meliputi layang-layang kreasi dan kolope, kalego, menyanyi lagu daerah Muna, tari tradisional Muna, pidato bahasa Muna, serta fashion show pakaian tenun Muna.
"Potensi Liangkabori luar biasa. Ini warisan dunia yang ada di Desa Liangkabori. Tugas kita sekarang mengemasnya jadi event yang layak ditonton wisatawan nusantara bahkan mancanegara," ujar Ridwan.
Dampak Ekonomi Harus Langsung ke Warga
Ridwan menekankan bahwa festival tidak boleh berhenti sebagai seremoni belaka. Ia mendorong agar dampak ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat setempat, mulai dari ibu-ibu pengrajin tenun, pemuda pemandu goa, hingga pelaku kuliner.
"Kami tidak mau festival hanya lewat. Harus ada dampak ekonomi langsung. Semua harus naik kelas," tutup Ridwan Badala.