SULAWESI TENGGARA — Gempa dahsyat yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani itu menyebabkan kerusakan parah di dua wilayah utama, Soccsksargen dan Davao. Wakil Juru Bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD) Diego Mariano mengkonfirmasi sebanyak 33 dari total korban jiwa tercatat di Soccsksargen, dengan rincian 18 orang meninggal di Sarangani, 12 orang di Kota General Santos, dan tiga orang di South Cotabato. Empat korban jiwa lainnya berasal dari Provinsi Davao.
Bangunan Runtuh dan Tsunami Bayangan
Juru Bicara OCD Junie Castillo menjelaskan sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa puing bangunan dan struktur yang runtuh saat guncangan terjadi. Selain korban jiwa, bencana ini juga melumpuhkan infrastruktur vital. Pemerintah mencatat kerusakan pada sembilan jembatan dan 19 ruas jalan, dengan nilai kerugian infrastruktur diperkirakan menembus 900 juta peso Filipina (sekitar Rp264 miliar).
Kekhawatiran akan tsunami sempat memuncak setelah Pusat Peringatan Tsunami Pasifik AS memproyeksikan gelombang lebih dari tiga meter di atas pasang normal. Imbauan evakuasi pun dikeluarkan pemerintah Filipina dan Indonesia bagi warga pesisir. Namun, peringatan tersebut resmi dicabut Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina setelah tinggi gelombang terpantau terlalu kecil untuk menimbulkan kerusakan.
Gempa Susulan Hambat Evakuasi, Sekolah Hancur
Proses pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung di General Santos dan Sarangani terus terusik gempa susulan. Sekitar dua jam setelah gempa utama, wilayah itu kembali diguncang gempa magnitudo 6,1. Pada Selasa, Survei Geologi AS (USGS) mencatat gempa susulan magnitudo 5,1 kembali terjadi, memicu kekhawatiran akan kerusakan tambahan pada bangunan yang sudah rapuh.
Dampak gempa juga menghantam sektor pendidikan. Departemen Pendidikan Filipina melaporkan kerusakan signifikan pada 1.159 ruang kelas di 231 sekolah negeri yang tersebar di lima wilayah. Sementara itu, data OCD menyebutkan 1.889 rumah rusak, di antaranya sekitar 1.500 unit hancur total. Kerugian properti diperkirakan mencapai 15 juta peso Filipina (sekitar Rp4,4 miliar).
Warga Bertahan di Ruang Terbuka, Tenda Darurat Disiapkan
Hingga Selasa, sekitar 22.690 warga dari total 88.000 jiwa terdampak masih bertahan di ruang terbuka. Banyak yang enggan kembali ke rumah karena trauma dan khawatir struktur bangunan tak lagi aman. OCD menyatakan tengah merencanakan pembangunan kawasan tenda darurat untuk menampung para pengungsi yang belum bisa pulang.
"Penilaian kerusakan masih terus dilakukan sehingga angka kerugian dapat berubah," ujar Mariano. Operasi pencarian, penyelamatan, dan evakuasi hingga saat ini masih difokuskan di Kota General Santos dan Sarangani yang menjadi episentrum dampak terparah.