Bau-bau, Kota Kendari. Sulawesi Tenggara selama ini lebih dikenal dengan tambang nikelnya. Tapi di balik itu, provinsi yang berbatasan dengan Laut Banda ini punya produk lokal yang sudah lama menembus pasar internasional. Bukan cuma komoditas mentah, beberapa di antaranya bahkan sudah punya nilai tambah dan sertifikasi global.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sultra mencatat, nilai ekspor produk non-nikel dari daerah ini mencapai Rp 1,2 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik 18% dari tahun sebelumnya. Berikut tujuh produk lokal yang jadi andalan ekspor Sultra.
1. Tenun Buton: Kain Kebesaran yang Tembus Eropa
Kampung Tenun di Kelurahan Baadia, Kota Bau-Bau, jadi pusat produksi kain tenun Buton. Motifnya khas: geometris dengan warna alam dari kayu jati dan daun tarum. Satu lembar kain berukuran 2x1,5 meter dihargai Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta tergantung kerumitan motif.
Ekspor tenun Buton sudah merambah Belanda, Jepang, dan Korea Selatan. Pada Maret 2026 lalu, sebanyak 200 lembar kain dikirim ke Amsterdam untuk pameran tekstil internasional. Pembeli biasanya memesan langsung ke pengrajin di Bau-Bau via WhatsApp.
2. Rumput Laut Konawe: Pasok 30% Kebutuhan Nasional
Desa Lalonggatu, Kecamatan Soropia, jadi salah satu sentra budidaya rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Petani di sini panen setiap 45 hari dengan hasil rata-rata 2 ton basah per hektar. Harga jual di tingkat petani Rp 12 ribu per kilogram basah.
Produk ini diekspor ke China, Filipina, dan Vietnam sebagai bahan baku kosmetik dan makanan. Konawe sendiri menyumbang 30% dari total produksi rumput laut nasional. Pengeringan dilakukan di atas para-para bambu selama 3 hari.
3. Kopi Wawonii: Arabika Langka dari Pulau Terpencil
Kopi Arabika Wawonii tumbuh di ketinggian 600-800 mdpl di Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan. Bijinya kecil dengan aroma floral dan after taste cokelat. Petani menjual green bean seharga Rp 85 ribu per kilogram.
Pada Agustus 2025, kopi ini masuk ke pasar Amerika Serikat melalui platform e-commerce specialty coffee. Cuma 500 kilogram per bulan yang bisa diproduksi karena lahan terbatas. Roastery di Makassar dan Bali jadi pembeli utama.
4. Minyak Kayu Putih Muna: Warisan Turun-Temurun
Pohon kayu putih tumbuh liar di perbukitan kapur Pulau Muna. Penyulingan tradisional di Desa Wakumoro, Kecamatan Parigi, menghasilkan minyak dengan kadar sineol di atas 65%. Harga eceran Rp 50 ribu per botol 100 ml.
Minyak kayu putih Muna diekspor ke Malaysia dan Singapura untuk bahan baku obat gosok dan aromaterapi. Produksi maksimal 500 liter per bulan dari 5 unit penyulingan sederhana. Musim kemarau Juni-Oktober jadi waktu panen raya.
5. Ikan Asap Kolaka: Lumer di Lidah, Laku di Jepang
Sentra pengasapan ikan ada di Kelurahan Watubangga, Kota Kolaka. Ikan cakalang dan tuna segar diasapi dengan kayu bakau selama 8 jam. Teksturnya kering di luar tapi masih lembab di dalam. Harga Rp 60 ribu per ekor ukuran 500 gram.
Ekspor ikan asap Kolaka ke Jepang mencapai 5 ton per bulan. Pembeli di Osaka dan Tokyo menyukai cara pengasapan yang tidak menggunakan bahan pengawet. Pengiriman via Bandara Haluoleo dengan waktu tempuh 3 jam ke Jakarta, lalu lanjut ke Narita.
6. Madu Hutan Buton: Tanpa Kandungan Gula Tambahan
Lebah Apis dorsata bersarang di hutan lindung Kecamatan Lasalimu, Buton. Madu yang dihasilkan berwarna gelap dengan tingkat keasaman rendah. Harga per liter di petani Rp 150 ribu, di pasaran Jakarta bisa Rp 350 ribu.
Pada 2025, madu Buton lolos uji laboratorium BPOM untuk kandungan glukosa dan fruktosa. Ekspor perdana ke Arab Saudi sebanyak 300 liter pada Januari 2026. Petani memanen dengan teknik tradisional tanpa merusak sarang.
7. Kerajinan Perak Kendari: Cenderamata Kelas Dunia
Perajin perak di Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, mengolah perak lokal menjadi gelang, cincin, dan kalung. Motifnya terinspirasi dari ukiran tradisional Tolaki. Harga mulai Rp 200 ribu untuk cincin polos hingga Rp 5 juta untuk gelang ukir penuh.
Produk ini diekspor ke Australia dan Selandia Baru melalui pameran kriya di Bali. Satu perajin bisa menyelesaikan 10 gelang per minggu. Bahan baku perak didatangkan dari tambang rakyat di Konawe Utara.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah produk lokal Sultra bisa dibeli secara online?
Bisa. Sebagian besar produk seperti tenun, kopi, dan madu sudah dijual di marketplace seperti Tokopedia dan Shopee. Cari dengan kata kunci nama produk ditambah "Sultra" atau "Kendari".
Berapa lama pengiriman ke luar negeri?
Rata-rata 7-14 hari kerja via ekspedisi internasional. Untuk ikan asap dan madu, pengiriman harus menggunakan jasa kargo khusus dengan sertifikasi karantina.
Apakah ada jaminan keaslian produk?
Dinas Perindustrian Sultra memberikan label "Sultra Bangga" untuk produk yang sudah terverifikasi. Cek logo ini di kemasan sebelum membeli.
Mengapa harga produk lokal lebih mahal dari produk pabrik?
Karena proses produksi manual dan bahan baku alami. Tenun buton misalnya, butuh waktu 3-7 hari untuk satu lembar kain. Kopi Wawonii hanya panen setahun sekali.
Bisakah wisatawan mengunjungi sentra produksi?
Bisa. Kampung Tenun di Bau-Bau dan sentra ikan asap di Kolaka terbuka untuk kunjungan. Hubungi Dinas Pariwisata setempat untuk jadwal dan pemandu.
Produk lokal Sulawesi Tenggara bukan sekadar oleh-oleh. Tenun Buton, kopi Wawonii, dan madu hutan Buton sudah membuktikan diri di pasar global. Kalau kamu singgah ke Kendari atau Bau-Bau, sempatkan mampir ke sentra produksinya. Atau pesan dari rumah—semua bisa dikirim ke mana saja.