SULAWESI TENGGARA — Harga emas spot tercatat naik tipis 0,1 persen ke posisi USD4.547,54 per ons pada perdagangan Kamis (21/5) malam waktu Indonesia. Pergerakan ini terjadi setelah logam mulia sempat terperosok hingga 1 persen di awal sesi, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru ditutup melemah 0,1 persen ke level USD4.542,50 per ons. Sementara itu, logam mulia lainnya mencatatkan penguatan: harga perak spot naik 0,9 persen menjadi USD76,63 per ons, platinum bertambah 0,6 persen ke level USD1.962 per ons, dan paladium melonjak 1,1 persen menjadi USD1.384,50 per ons.
Dolar Melemah, Imbal Hasil Obligasi Turun: Bantalan Sementara bagi Emas
Dolar AS mulai memangkas penguatannya dari level tertinggi enam pekan, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 0,2 persen, mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Vice President Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan koreksi harga minyak dan pelemahan dolar menjadi sentimen konstruktif bagi logam kuning dalam jangka pendek. "Investor masih belum sepenuhnya yakin karena berbagai upaya perundingan sebelumnya kerap gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama," ujarnya.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed 2026 Menjadi Penghambat Reli Emas
Meskipun dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas umumnya kesulitan mencatatkan reli besar pada periode suku bunga tinggi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, seperti obligasi atau deposito.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58 persen bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Probabilitas tersebut meningkat dibandingkan 48 persen sehari sebelumnya, berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. "Situasi tersebut masih menjadi penghambat utama penguatan emas dalam waktu dekat," jelasnya.
Konflik Geopolitik dan Harga Minyak: Dua Sisi Mata Uang bagi Emas
Sejak perang meletus pada akhir Februari, harga emas tercatat telah merosot lebih dari 14 persen. Konflik yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia.
Pergerakan harga minyak menjadi elemen dominan yang memengaruhi arah pasar. Dalam sesi yang sangat fluktuatif, minyak sempat bergerak liar sebelum akhirnya melemah akibat belum jelasnya prospek penyelesaian perang antara AS, Israel, dan Iran.
Di satu sisi, pelemahan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi yang bisa memperkuat dolar AS. Namun di sisi lain, ketidakpastian penyelesaian konflik justru membuat investor enggan mengambil posisi berani di emas.
Apa Artinya bagi Investor?
Pergerakan harga emas saat ini mencerminkan dilema investor: di satu sisi, ketegangan geopolitik mendorong permintaan aset safe haven; di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi membatasi potensi kenaikan. Investor perlu mencermati perkembangan negosiasi konflik Timur Tengah dan sinyal terbaru dari pidato pejabat The Fed.
Investasi mengandung risiko.