SULAWESI TENGGARA — Kecelakaan terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat, atau 45 menit setelah pesawat lepas landas dari Bandara Pisco. Kementerian Transportasi dan Komunikasi Peru mengonfirmasi pesawat milik maskapai lokal Aerodiana itu jatuh di daerah Socos, sekitar 6 kilometer dari kota Nazca dan 19 kilometer dari situs Garis Nazca.
Kontak Radio Putus Setelah Laporan Darurat
Menurut pernyataan resmi kementerian, kru pesawat sempat melaporkan situasi darurat ke menara kontrol Bandara Nazca sebelum seluruh komunikasi terputus. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan puing-puing yang masih berasap di dataran kering, meski Reuters belum dapat memverifikasi keaslian rekaman tersebut secara independen.
Petugas pemadam kebakaran dan kepolisian setempat dikerahkan untuk memadamkan api. Namun, penyiar lokal RPP melaporkan badan pesawat yang terbakar membuat evakuasi korban tidak memungkinkan dilakukan.
Angin Kencang Diduga Jadi Pemicu, Penerbangan Sempat Ditangguhkan Sehari Sebelumnya
Penyebab pasti kecelakaan belum diketahui dan pemerintah Peru menyatakan sedang melakukan investigasi menyeluruh. Namun, data menunjukkan penerbangan di atas Garis Nazca yang berangkat dari Bandara Maria Reiche terdekat telah ditangguhkan pada Jumat (31/7) karena kecepatan angin melebihi 40 kilometer per jam yang menimbulkan debu dan mengurangi jarak pandang secara signifikan.
Aerodiana, dalam pernyataan resminya, menyatakan akan menilai kembali jadwal penerbangannya sesuai arahan otoritas terkait. Maskapai ini merupakan salah satu operator penerbangan wisata reguler yang melayani rute menuju kawasan Garis Nazca.
Garis Nazca: Destinasi Wisata yang Menelan Korban Jiwa
Garis Nazca merupakan gambar-gambar besar dan figur geometris yang diukir di dataran gurun selatan Peru dan menjadi salah satu tujuan wisata utama negara tersebut. Situs warisan dunia UNESCO ini menarik sekitar 100.000 pengunjung setiap tahunnya, yang biasanya menyaksikan keindahan geoglif purba dari pesawat kecil yang terbang di atas lokasi.
Kecelakaan ini menjadi pukulan berat bagi industri pariwisata penerbangan di kawasan tersebut. Otoritas penerbangan sipil Peru kini menghadapi tekanan untuk meninjau ulang standar keselamatan penerbangan wisata, terutama terkait operasional pesawat dalam kondisi angin kencang yang kerap melanda dataran tinggi gurun tersebut.
Belum ada keterangan resmi mengenai identitas lengkap para korban maupun langkah repatriasi jenazah ke negara asal masing-masing. Kedutaan besar Jerman, Italia, dan Spanyol di Lima dikabarkan telah dihubungi oleh otoritas Peru untuk proses identifikasi dan pemulangan korban.