SULAWESI TENGGARA — Tim analis JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva, Lyuba Savinova, dan Artem Fakhretdinov mengungkap temuan mengejutkan setelah serangkaian pertemuan dengan para pelaku pasar di China. Mereka mendapati bahwa permintaan minyak global ambles hingga 1,5 juta barel per hari—setara dengan 9% dari total pasokan dunia yang hilang—tanpa menimbulkan antrean panjang di pompa bensin atau krisis energi di jalan raya.
"Kesimpulan paling mencolok dari pertemuan kami bukanlah sekadar fakta bahwa permintaan minyak telah turun," tulis para pakar strategi itu dalam nota kepada klien. "Tetapi bahwa permintaan itu telah merosot secara mendadak atau tidak terduga, namun dengan sangat sedikit gangguan yang terlihat di masyarakat."
Cadangan Darurat Jadi Bantalan Sementara
Pemerintah berbagai negara kompak menguras cadangan minyak darurat mereka untuk meredam guncangan pasar. Langkah ini, ditambah kondisi pasokan global yang melimpah (oversupplied) sejak awal 2026, membuat harga minyak hanya sesekali melonjak. Namun faktor utama yang menjaga stabilitas justru berasal dari perilaku konsumen sendiri.
Konsep demand destruction bekerja sederhana: ketika harga barang sudah terlampau mahal, konsumen berhenti membeli secara sukarela. Masyarakat mengurangi perjalanan, beralih ke transportasi umum, atau menunda konsumsi energi yang tidak esensial. Alhasil, tekanan permintaan turun drastis tanpa perlu intervensi kebijakan yang represif.
Dampak ke Indonesia: Harga BBM Subsidi Masih Aman?
Bagi Indonesia, situasi ini memberikan ruang napas bagi APBN. Dengan harga minyak yang tidak meroket liar, Pertamina masih bisa mengelola beban subsidi BBM dan LPG tanpa tekanan ekstrem. Meski pasokan global menyusut 1,5 juta barel per hari, permintaan yang ikut turun mencegah lonjakan harga yang bisa membengkakkan kompensasi negara ke BUMN migas.
Namun para analis memperingatkan bahwa keseimbangan ini rapuh. Jika konflik di Timur Tengah meluas atau produksi negara-negara OPEC terganggu, demand destruction mungkin tidak cukup untuk menahan gejolak harga. Dunia, termasuk Indonesia, tetap harus waspada terhadap potensi kejutan pasokan yang bisa mengubah peta energi global dalam sekejap.