Pencarian

ITB Luncurkan Magister Kecerdasan Sistem dan AI Factory

Jumat, 18 September 2026 • 18:02:01 WIB
ITB Luncurkan Magister Kecerdasan Sistem dan AI Factory

SULAWESI TENGGARA — Institut Teknologi Bandung membuka Program Studi Magister Kecerdasan Sistem di bawah Sekolah Pascasarjana Ilmu dan Teknologi Multidisiplin. Pembukaan program ini bersamaan dengan kuliah umum bertajuk "AI Ekosistem dan Factory: Kedaulatan Keputusan" yang digelar bersama Smart City & Community Innovation Center dan AISX. Langkah tersebut menandai upaya kampus mendorong Indonesia menjadi produsen kecerdasan artifisial, bukan sekadar konsumen aplikasi.

Guru Besar ITB, Prof. Suhono Harso Supangkat, memaparkan peta jalan transformasi kecerdasan artifisial dalam kuliah umum yang berlangsung di Bandung. Ia menyoroti akselerasi AI global yang telah bergeser dari wacana laboratorium menuju arena kompetisi investasi ratusan miliar dolar AS. Lonjakan inovasi paten dan adopsi industri nyata ikut menekan infrastruktur komputasi, konsumsi energi pusat data, dan kesiapan kapasitas manusia.

Pertanyaan krusial bagi Indonesia, kata Suhono, adalah bagaimana melompat agar tidak hanya menjadi konsumen atau pemakai aplikasi AI. Ia menilai keunggulan masa depan tidak lagi ditentukan kepemilikan data mentah atau dasbor visualisasi semata.

"Keunggulan masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh kepemilikan data mentah atau sekadar dasbor visualisasi, melainkan oleh kemampuan mengubah data menjadi keputusan yang cepat, tepat, kontekstual, dan akuntabel," ujar Prof. Suhono.

AI Factory: Sistem Produksi Kecerdasan, Bukan Sekadar GPU

Suhono memperkenalkan konsep AI Factory sebagai sistem terorganisasi yang memproses data menjadi kecerdasan operasional secara berulang dan terukur. Alurnya mencakup pengumpulan data (sense/ingest), pemodelan (understand), penalaran agen cerdas (reasoning), eksekusi aksi di lapangan (actuate), hingga perbaikan berkelanjutan (feedback loop).

Ia menegaskan AI Factory bukan sekadar tumpukan kartu grafis mahal. Sistem ini menyatukan data, komputasi, model, tata kelola, dan talenta manusia dalam satu produksi menyeluruh.

"AI Factory bukan sekadar tumpukan kartu grafis (GPU) mahal. Ia adalah sistem produksi menyeluruh yang menyatukan data, komputasi, model, tata kelola (governance), dan talenta manusia. Factory tanpa ekosistem adalah mesin mahal, sedangkan ekosistem tanpa factory hanya akan menjadi seminar," ujarnya.

Tiga Strategi Kedaulatan Keputusan

Suhono menggarisbawahi makna Kedaulatan Keputusan (Decision Sovereignty). Kedaulatan di era AI tidak berarti autarki atau memaksakan diri membangun seluruh komponen teknologi secara mandiri. Yang dituntut adalah kejelasan strategi.

Strategi pertama, sewa kapasitas cloud atau token untuk eksperimen cepat, elastis, dan layanan umum. Kedua, bangun terbatas secara on-premise untuk data sensitif, operasi misi kritis, dan kebutuhan latensi rendah. Ketiga, kapasitas nasional atau hybrid melalui standardisasi, pembagian kapasitas antarlembaga, dan interoperabilitas demi skala daya saing bangsa.

Keberhasilan AI, lanjutnya, harus teruji di ekonomi riil. Contohnya penerapan smart factory untuk predictive maintenance, quality vision, efisiensi energi per unit, keselamatan kerja, hingga ketahanan rantai pasok. Tata kelola seperti mitigasi risiko halusinasi, keamanan siber, privasi data, dan keadilan algoritma wajib terintegrasi langsung ke dalam alur kerja.

Empat Pilar Magister Kecerdasan Sistem

Rantai produksi kecerdasan yang berdaulat membutuhkan talenta yang mampu merancang sistem cerdas yang sadar konteks dan berdampak nyata. Kebutuhan itu menjawab alasan pembukaan Program Studi Magister Kecerdasan Sistem SPITM ITB. Program magister multidisiplin ini membekali mahasiswa dengan empat pilar utama.

Pilar pertama, Human-Centered AI, yaitu merancang kecerdasan buatan yang berpusat pada manusia, etis, inklusif, dan terpercaya. Pilar kedua, Situational Awareness, membangun kepekaan sistem terhadap dinamika data, batasan operasional, regulasi, dan konteks lokal Indonesia.

Pilar ketiga, Decision Intelligence, mentransformasikan data analitik dan pengetahuan domain menjadi keputusan yang adaptif dan teruji. Pilar keempat, Smart-X Applications, mengimplementasikan kecerdasan sistem ke domain sektoral nyata seperti Smart City, Smart Industry, Smart Energy, Smart Maritime, Smart Building, hingga Smart Health.

"AI Factory membutuhkan talenta lintas disiplin yang menguasai teknologi, domain keilmuan, tata kelola, serta mampu menerjemahkan persoalan riil menjadi sistem keputusan," ujar Prof. Suhono.

Sinergi antara AI Factory ITB, program studi Magister Kecerdasan Sistem, dan ekosistem industri diharapkan membuat karya riset kampus bergulir dalam siklus penemuan, penerapan, asesmen, dan pembelajaran. Bagi pelaku industri dan investor, arah ini menegaskan posisi ITB sebagai penyuplai talenta dan sistem keputusan berbasis AI untuk sektor-sektor riil di Indonesia.

Follow liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: itb.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks