SULAWESI TENGGARA — Memasuki 2026, aktivitas pertambangan Amman di Batu Hijau memasuki masa transisi. Produksi awal dari Fase 8 membuat pergerakan material dan pembuangan batuan penutup jauh lebih padat. Bijih yang diolah pun berkadar rendah hingga menengah, sehingga operasional harus berjalan tanpa gangguan.
Untuk mengatur ratusan truk raksasa di area pit, perusahaan memakai Fleet Management System (FMS) yang tersambung dengan sensor dan algoritma AI. Data telemetri dari setiap alat berat dikirim langsung ke pusat kendali secara real-time.
Algoritma prediktif membaca suhu, getaran, dan keausan komponen untuk memerintahkan perawatan sebelum mesin rusak. Hasilnya, biaya modal ditekan, usia alat berat lebih panjang, dan konsumsi bahan bakar fosil berkurang.
Keselamatan pekerja tetap jadi prioritas. Di kabin operator, kamera pintar berbasis AI memantau indikator micro sleep dan kelelahan. Jika mata terpejam melewati batas aman, alarm keras berbunyi di kabin dan sinyal bahaya langsung dikirim ke ruang dispatch.
Vice President Corporate Communications Amman, Kartika Octaviana, menegaskan teknologi ini bukan sekadar tren.
"AI tidak ditempatkan sebagai teknologi yang mengikuti tren tetapi diarahkan membantu manusia bekerja lebih cepat, cerdas, dan aman di seluruh rantai operasi," ujarnya dalam publikasi resmi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI).
Bekal Menuju Megaproyek Blok Elang
Pengalaman di Fase 8 menjadi batu pijakan untuk pengembangan Blok Elang di Sumbawa. Proyek ini menyimpan cadangan bijih 2.526 juta ton, jauh di atas sisa cadangan Batu Hijau yang hanya 696 juta ton. Produksinya dijadwalkan berjalan pada 2031 hingga 2046.
Dengan pendekatan Brownfield Development, Blok Elang akan memakai infrastruktur Batu Hijau yang sudah ada, seperti sirkuit penggilingan, pelabuhan, dan jaringan logistik. Strategi ini menekan pembukaan lahan baru dan memangkas biaya investasi.
Laser 3D Menjaga Pabrik dari Material Asing
Setelah bijih diekstraksi, tantangan berpindah ke pabrik pengolahan. Setiap hari, lebih dari 100.000 ton batuan mengalir di atas conveyor menuju mesin penggiling raksasa Semi-Autogenous Grinding (SAG) Mill. Jika material asing seperti batu berukuran ekstrem atau potongan besi lolos, seluruh sirkuit produksi bisa berhenti.
Tim Metalurgi Amman lantas menciptakan inovasi 3D Particle Size Measurement (3DPM) yang memakai metode laser triangulation. Pemindai laser 3D dipasang di atas conveyor belt untuk memindai bentuk, ukuran, dan volume setiap objek secara presisi. Begitu objek berbahaya terdeteksi, operator ruang kontrol mendapat peringatan dini untuk menghentikan atau mengekstraksi material tersebut sebelum masuk mesin penggiling.
"Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Aliran material menjadi jauh lebih konsisten, yang pada akhirnya menjaga produktivitas tambang tetap berada di kurva optimal," ujar Victor dalam Laporan Keberhasilan Inovasi Operasional Amman, 2026.
Efisiensi berlanjut ke sirkuit flotasi. Pemodelan proses berbasis AI memantau tangki secara real-time untuk mengontrol campuran agen kimia, pH, dan suplai udara. Hasilnya, tingkat perolehan tembaga dan emas meningkat signifikan. Terobosan ini mengantar Amman meraih Juara 1 kategori Best Practices in Processing pada ajang internasional 4th ASEAN Mineral Awards (AMA).
Benteng Teknologi di Balik Layar
Seluruh inovasi di lapangan ditopang arsitektur teknologi informasi skala enterprise. Amman telah memigrasi sistemnya dari on-premises ke SAP S/4HANA Cloud untuk memperkuat backbone operasional. Dengan fondasi digital yang solid, perusahaan memadukan kecerdasan buatan di hulu hingga hilir, membuktikan masa depan pertambangan tidak lagi hanya soal berapa banyak mineral yang diekstraksi, tetapi bagaimana menambang secara presisi dan bertanggung jawab.