SULAWESI TENGGARA — PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan laba bersih Rp 1,01 triliun hingga kuartal III 2026, ditopang kualitas pembiayaan yang membaik. Aset perseroan tumbuh 8% secara tahunan menjadi Rp 24 triliun, sementara pembiayaan naik 13% menjadi Rp 11 triliun.
Kinerja BTPS juga tercermin dari rasio profitabilitas dan permodalan yang tetap tinggi. Return on asset (RoA) perseroan berada di level 7,3%, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 59%. Angka CAR itu jauh di atas ambang minimum yang ditetapkan regulator, memberi ruang ekspansi pembiayaan tanpa perlu tambahan modal dalam waktu dekat.
Pendampingan Nasabah Jadi Kunci Kualitas Pembiayaan
Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad menyatakan pertumbuhan kinerja perseroan tidak lepas dari konsistensi menjaga kualitas pembiayaan, disiplin pengelolaan risiko, dan pendampingan berkelanjutan kepada nasabah.
"Hal ini mencerminkan semakin kuatnya disiplin dan kapasitas nasabah dalam menjalankan usaha, sekaligus menunjukkan efektivitas pendekatan pendampingan yang menjadi bagian dari model bisnis BTPN Syariah," ujar Fachmy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (24/10).
Fachmy menambahkan pertumbuhan yang berkualitas menjadi fondasi utama perseroan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan. "Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkualitas merupakan fondasi utama untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," katanya.
Fokus pada Perempuan Produktif Segmen Mass Market
BTPS mengarahkan strategi pada pemberdayaan masyarakat inklusi, terutama perempuan produktif di segmen mass market. Program pendampingan dan pengembangan kapasitas dijalankan lewat kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
Cakupan program itu meliputi perluasan akses pembelajaran, peningkatan literasi keuangan, hingga penguatan kapasitas usaha nasabah. Salah satu bentuk apresiasinya adalah Program Umrah Satu Pesawat, yang tahun ini dijadwalkan berangkat pada November 2026.
Program tahunan itu menyasar nasabah inspiratif dan kelompok nasabah dari berbagai wilayah Indonesia. Kriterianya: konsisten mengikuti Pertemuan Rutin Sentra (PRS), membayar tepat waktu, aktif menabung, dan menunjukkan perkembangan usaha yang baik.
Perluasan Produk dari Tepat Imbang hingga Sukuk Ritel
Di sisi bisnis, BTPS memperluas akses pembiayaan individu melalui produk Tepat Imbang dan memperkuat kerja sama pembiayaan dengan lembaga keuangan nonbank. Langkah itu membuka kanal pertumbuhan di luar pembiayaan kelompok yang selama ini jadi tulang punggung perseroan.
Pada sisi pendanaan, BTPS menyediakan sejumlah instrumen investasi syariah, termasuk sukuk yang diterbitkan pemerintah. Salah satunya Sukuk Ritel Seri SR025, yang memberi masyarakat kesempatan berinvestasi sesuai prinsip syariah sekaligus berkontribusi pada pembangunan nasional.
Perseroan juga menghadirkan Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), produk yang mengintegrasikan manfaat ekonomi dengan dampak sosial berkelanjutan. Instrumen ini memperkaya pilihan simpanan syariah sekaligus memperkuat posisi BTPS di segmen retail syariah.
Jaringan Layanan 7 Juta Nasabah di 26 Provinsi
Hingga 30 September 2026, total aset BTPN Syariah tercatat Rp 24 triliun. Perseroan memiliki sekitar 14,5 ribu karyawan dan melayani 7 juta nasabah, dengan 3,81 juta di antaranya nasabah aktif.
Jaringan layanan itu menjangkau 247 ribu komunitas yang tersebar di 2.650 kecamatan di 26 provinsi. Skala jangkauan tersebut menjadi modal BTPS memperluas basis nasabah tanpa harus menambah jaringan kantor secara agresif.
Dengan kualitas pembiayaan yang membaik, permodalan yang tebal, dan model pendampingan yang terus berjalan, BTPS menyatakan optimistis memperkuat ketahanan bisnis sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat Indonesia.