SULAWESI TENGGARA — Paragraf pembuka: PT Pertamina (Persero) masih memberlakukan harga hasil penyesuaian awal September untuk BBM nonsubsidi per Senin, 14 September 2026. Tiga produk naik pada 1 September, lalu Pertamax Green 95 menyusul sehari kemudian. Sementara Pertalite, Biosolar Subsidi, dan Pertamax bertahan di harga sebelumnya.
Perbedaan harga antarwilayah bukan hal baru. Faktor distribusi dan lokasi penjualan membuat harga di Jawa berbeda dengan Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Berikut rincian harga terbaru yang berlaku di SPBU Pertamina.
Wilayah Termurah: FTZ Sabang dan FTZ Batam
Kawasan Free Trade Zone (FTZ) menawarkan harga paling rendah. Di FTZ Sabang, Pertamax dibanderol Rp14.950 per liter dan Pertamax Pertashop Rp14.850 per liter. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, Dexlite Rp22.150 per liter, dan Biosolar Subsidi Rp6.800 per liter.
FTZ Batam tidak jauh berbeda. Pertamax Rp15.150 per liter, Pertamax Pertashop Rp15.050 per liter, Pertamina Dex Rp23.950 per liter, dan Dexlite Rp22.500 per liter. Pertamax Turbo di kawasan ini Rp18.550 per liter, terendah di antara semua wilayah.
Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara: Harga Seragam
DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur memakai patokan harga yang sama dengan Bali, NTB, dan NTT. Pertamax Turbo Rp19.600 per liter, Pertamax Green 95 Rp19.150 per liter, Pertamax Rp15.950 per liter, dan Pertamax Pertashop Rp15.850 per liter.
Untuk diesel, Pertamina Dex dijual Rp25.200 per liter dan Dexlite Rp23.700 per liter. Khusus NTT, tersedia Biosolar Non-Subsidi seharga Rp23.600 per liter.
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua
Mayoritas wilayah luar Jawa memakai harga Rp20.000 per liter untuk Pertamax Turbo, Rp16.300 per liter untuk Pertamax, dan Rp16.200 per liter untuk Pertamax Pertashop. Pola ini berlaku di Aceh, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Wilayah dengan harga lebih tinggi adalah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, serta Kalimantan Utara. Di sana Pertamax Turbo Rp20.450 per liter, Pertamax Rp16.650 per liter, Pertamina Dex Rp26.300 per liter, dan Dexlite Rp24.750 per liter.
Papua Barat, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya tidak menjual Pertamax Turbo. Pertamax di wilayah ini Rp16.300 per liter, Dexlite Rp24.200 per liter, dan Biosolar Subsidi Rp6.800 per liter.
Produk yang Tidak Berubah
Pertalite konsisten Rp10.000 per liter di 16 wilayah yang terdata. Biosolar Subsidi juga tidak bergerak dari Rp6.800 per liter. Kedua produk ini menyasar konsumen yang bergantung pada BBM bersubsidi dan menjadi penopang daya beli rumah tangga serta pelaku usaha kecil.
Pertamax juga bertahan di harga lama meski sempat disebut masuk radar penyesuaian. Di Jawa, produk ini tetap Rp15.950 per liter, sementara di luar Jawa berkisar Rp16.300 hingga Rp16.650 per liter.
Mengapa Harga Bisa Berbeda Antarwilayah
Pertamina menetapkan harga berdasarkan biaya distribusi, jarak pasok dari kilang atau terminal, serta kebijakan pemerintah daerah setempat. Wilayah kepulauan dan pegunungan umumnya menanggung ongkos logistik lebih besar, sehingga harga jual ikut naik.
Kawasan FTZ mendapat perlakuan khusus karena insentif fiskal yang berlaku di sana. Itu sebabnya Sabang dan Batam menawarkan harga jauh lebih murah dibanding kota-kota di sekitarnya.
Penutup: Bagi konsumen, kenaikan awal September ini menambah beban biaya transportasi harian, terutama pengguna Pertamax Turbo dan diesel nonsubsidi. Sementara pengguna Pertalite dan Biosolar Subsidi belum terdampak dan bisa memakai patokan harga lama untuk mengatur pengeluaran pekan ini.