SULAWESI TENGGARA — Presiden RI Prabowo Subianto secara spesifik menyinggung soal keterbukaan pemerintah terhadap kritik dan usulan dari warga di daerah terpencil. Hal ini ia sampaikan di hadapan para akademisi, peneliti, dan pelaku industri dalam forum yang digelar di Jakarta, kemarin.
Saluran Digital Jadi Jembatan antara Istana dan Warga
Menurut Prabowo, era digital telah menghilangkan sekat geografis yang selama ini menghambat komunikasi antara pusat dan daerah. Ia mencontohkan, banyak anak muda dari desa yang kini berani menyampaikan gagasan langsung ke akun media sosial presiden.
"Aspirasi dari anak-anak desa itu kami dengar. Pemerintah tidak eksklusif," ujar Prabowo dalam sambutan penutup acara tersebut.
Respons Langsung atas Masukan yang Masuk
Pernyataan Presiden ini sekaligus menjawab skeptisisme publik yang kerap mempertanyakan efektivitas kanal pengaduan digital. Prabowo mengklaim, timnya secara rutin memilah dan menindaklanjuti laporan yang masuk, terutama yang berkaitan dengan layanan dasar seperti pendidikan dan infrastruktur.
Ia menambahkan, teknologi bukan sekadar alat kampanye, melainkan instrumen tata kelola yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh birokrasi. "Jangan ada lagi kepala desa atau camat yang merasa paling tahu kebutuhan rakyat tanpa mau mendengar," tegasnya.
Konvensi Sains dan Industri Jadi Ajang Konsolidasi
Sarasehan Kebangsaan yang digelar sejak sehari sebelumnya itu sendiri merupakan forum tahunan yang mempertemukan riset akademik dengan kebutuhan industri. Dalam pidatonya, Prabowo juga mendorong agar hasil riset anak bangsa tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi bisa diterapkan untuk memecahkan masalah konkret di desa-desa.
Penutupan acara ini menjadi salah satu agenda terakhir Presiden sebelum memasuki masa reses kerja di awal Juli mendatang. Tidak ada pengumuman kebijakan baru yang disampaikan dalam kesempatan tersebut, selain penegasan komitmen terhadap prinsip pemerintahan yang partisipatif.